Ada fase dimana hidup terasa sangat melelahkan. Ketegangan hubungan, tuntutan pekerjaan, ekspektasi keluarga, ditambah derasnya arus informasi membuat hati mudah gelisah. Tidak sedikit orang yang akhirnya menutup diri, menjadi "antisosial", atau bersikap "masa bodoh" demi alasan menjaga kedamaian diri. Ironisnya, usaha melindungi kedamaian diri dengan cara-cara seperti ini sering berujung pada rasa hampa, kelemahan rohani, dan hati yang lebih sensitif atau mudah tersinggung. Amsal 18:1 mengingatkan bahwa orang yang mengasingkan diri demi mengikuti keinginannya sendiri dapat kehilangan pertimbangan yang sehat.
Yesaya 26:3 mengajar kita bahwa damai sejahtera bukan lahir dari usaha mengisolasi diri, tetapi sesuatu yang Tuhan anugerahi ketika hati kita teguh kepada-Nya. Kata "teguh" disini berasal dari kata Ibrani "samukh" â bentuk pasif dari akar kata "samak" yang berarti "menopang" atau "menyokong". Jadi, orang yang hatinya teguh bukanlah orang yang kuat karena upayanya sendiri, melainkan orang yang hidupnya terus menerus ditopang oleh Allah. Dengan demikian, damai yang sejati bukan lahir dari hidup yang selalu terkendali, bukan pula dari banyaknya persetujuan dan dukungan manusia yang kita terima; melainkan dari hati dan pikiran yang terus tertuju kepada Allah yang setia menjaga. Jika hati kita hanya tertuju pada diri kita sendiri, masalah kita, atau orang-orang yang mengganggu dan menyakiti kita, kita tidak dapat memiliki damai sejahtera yang sejati. Alkitab mengingatkan, bahwa untuk mencuri damai kita, Iblis akan terus mengarahkan hati kita kepada berbagai macam hal kecuali Tuhan. Itu sebabnya, setiap hari kita perlu dengan sadar melatih hati untuk terus fokus kepada Tuhanâmelalui doa, firman, dan ketaatan-ketaatan kecil di tengah rutinitas dan juga di tengah hubungan kita dengan sesama. Ingat, damai sejahtera bukanlah hasil dari ketiadaan masalah, damai sejahtera adalah buah dari hati yang terus ditopang oleh Allah, apa pun keadaan yang sedang kita hadapi. [LS]