Kemunduran rohani tidak terjadi dalam sehari. Seperti sebuah kapal yang hanyut karena tidak lagi terikat pada jangkar, demikian pula kehidupan rohani yang tidak dijaga – perlahan akan semakin menjauh dari Tuhan. Walau masih tampak aktif secara rohani, namun jauh di dalam hati ada sesuatu yang mulai bergeser. Hubungan yang dahulu hangat dengan Tuhan kini menjadi biasa. Kerinduan untuk mencari hadirat Tuhan pun mulai memudar.
Salah satu tanda kemunduran rohani adalah berubahnya prioritas terhadap Tuhan. Jika dahulu Tuhan menjadi pusat kehidupan, perlahan-lahan kesibukan, pekerjaan, ambisi, kesenangan, dan berbagai urusan menjadi yang terpenting daripada Tuhan. Jemaat di Efesus dipuji karena kerja keras dan ketekunannya, tetapi perhatikan Tuhan menegur mereka karena telah meninggalkan kasih mereka yang mula-mula (Why. 2:4). Kendati masih melakukan banyak aktivitas rohani, tetapi hati mereka tak lagi menempatkan Tuhan sebagai prioritas. Tanda berikutnya adalah berkurangnya kepekaan terhadap suara Tuhan. Di saat kedekatan dengan Tuhan merenggang, maka hati pun menjadi tidak peka terhadap tuntunan Roh Kudus. Kemunduran rohani membuat seseorang semakin sulit membedakan suara Tuhan di tengah hiruk-pikuk dunia ini. Tanda ketiga adalah menurunnya kepatuhan terhadap firman Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan tak hanya mendengar firman, tetapi juga melakukannya. Yakobus mengingatkan bahwa menjadi pendengar firman saja tanpa melakukannya adalah bentuk penipuan terhadap diri sendiri. Ketika hati mulai mundur dari Tuhan, firman yang didengar tak lagi menghasilkan perubahan hidup. Teguran diabaikan, ketaatan ditunda, dan kompromi terhadap dosa mulai dianggap hal yang wajar. Padahal setiap kali kita menaati firman Tuhan, di situlah hubungan kita dengan Tuhan semakin dikuatkan. Hari ini mari periksa kondisi rohani kita. Apakah Tuhan masih menjadi prioritas utama? Apakah kita masih peka terhadap suara-Nya? Apakah kita masih menaati setiap firman-Nya? Waspadalah, jangan sampai hati kita semakin jauh dari Tuhan. [RS]