Keluarga adalah tempat pertama Tuhan membentuk karakter dan mengajarkan kita tentang kasih. Tuhan tidak merancang keluarga hanya sebagai tempat untuk hidup bersama, tetapi sebagai ruang pertama di mana kasih-Nya dinyatakan dan dialami. Dalam Kolose 3, Paulus mengajarkan bahwa orang percaya dipanggil untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Nilai-nilai ini bukan hanya untuk ditunjukkan di gereja, di CORE, atau di kantor, tetapi pertama-tama harus tercermin di dalam rumah kita sendiri. Iman yang nyata dimulai dari relasi yang paling dekat.
Namun sering kali, justru keluargalah yang paling mudah kita lukai. Karena merasa "mereka pasti mengerti", kita jadi lebih seenaknya memperlakukan mereka. Kita mudah berkata kasar, mudah bersikap egois, dan mudah mengabaikan perasaan satu sama lain. Inilah sebabnya praktik kasih sangat penting di dalam keluarga, sebab kasih lah yang mempersatukan dan menyempurnakan. Tanpa kasih, orang dapat tinggal di bawah satu atap, tetapi kehilangan kehangatan dan kesatuan sebagai keluarga. Yesus memberikan teladan bagaimana kasih itu dipraktikkan. Ia melayani dengan rendah hati, mengampuni, dan tetap mengasihi bahkan ketika disalahpahami. Kasih-Nya bukan sekadar perasaan, tetapi keputusan untuk tetap melakukan yang benar di hadapan Allah. Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk membawa kasih Kristus ke dalam keluarga—melalui perkataan yang membangun dan memotivasi anggota keluarga, kerendahan hati untuk meminta maaf kepada pasangan, hati yang mau mengampuni kesalahan kakak atau adik, dan tindakan-tindakan yang menciptakan damai serta kehangatan di dalam rumah. Mungkin kita tidak dapat mengubah seluruh keluarga sekaligus, tetapi kita dapat memulai dari diri kita sendiri. Ketika kasih Kristus mulai dinyatakan kepada pasangan, anak-anak, dan orang tua, Tuhan dapat memakai kita untuk memulihkan dan membentuk keluarga menjadi tempat yang memancarkan kasih-Nya. [FD]