Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menjalani hidup. Ada yang bekerja di kantor, ada yang menjadi pengusaha; ada yang mengutamakan pendidikan, ada yang memprioritaskan relasi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kita memang diberi kebebasan untuk melangkah dan mengambil keputusan. Namun di tengah berbagai pilihan itu, ada satu hal yang paling mendasar, ini bukan hanya tentang apa yang kita jalani, tetapi untuk siapa kita hidup. Bagi orang percaya, kita dipanggil untuk tidak lagi hidup bagi diri sendiri, melainkan bagi Tuhan, dengan menjadi berkat bagi sesama.
Dalam kenyataannya, panggilan ini tidak selalu mudah dijalani. Manusia cenderung mempertahankan kepentingan diri sendiri; dan demi hal itu, kita bisa mengabaikan keadilan, mengkompromikan iman, bahkan menghalalkan berbagai cara. Hal ini terlihat dalam fase awal kehidupan Zakheus yang berfokus mengejar harta dan kekuasaanâsebuah distraksi yang juga relevan pada masa kini. Sebagai kepala pemungut cukai, ia dikenal menindas orang lain dengan menarik pajak melebihi yang seharusnya demi keuntungan pribadi. Namun, di tengah keberdosaannya, Zakheus memiliki kerinduan untuk melihat Yesus. Yesus menyambutnya dengan meminta ia turun dari pohon ara dan menyatakan kehendak-Nya untuk menumpang di rumah Zakheusâsebagai tanda panggilan kepada pertobatan. Ketika panggilan itu direspons dengan kesungguhan, orientasi hidup Zakheus pun diubahkan. Ia meninggalkan pola hidup yang egosentris dan mulai menjalani hidup yang berdampak bagi sesama. Zakheus menyadari kesalahannya dan mengambil langkah nyata untuk memulihkan kerugian yang telah ia perbuat, dengan memberikan setengah dari hartanya kepada orang miskin serta mengembalikan empat kali lipat kepada mereka yang telah ia peras. Demikian juga seharusnya respons hidup kita yang sudah diselamatkan. Tuhan mengerjakan hati yang baru dalam kita untuk menaati-Nya, dan kita bertanggung jawab untuk mewujudkan tindakan ketaatan yang memberkati sesama. Oleh karena itu, marilah kita mengevaluasi diri. Adakah hal-hal yang masih kita pertahankan demi keuntungan dan kenyamanan pribadi, tanpa mempedulikan keadilan dan dampaknya terhadap orang lain? Berdoalah agar Roh Kudus menolong kita menggeser pusat hidup dari "aku" kepada "Dia", melalui pilihan-pilihan untuk taat, mengasihi sesama, dan mengutamakan kehendak Tuhan setiap harinya. [SR]