Menjadi "blessing carrier" merupakan ciri khas orang percaya yang telah mengecap kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Sebagai penerima kasih karunia, kita dipanggil bukan untuk menjadi wadah yang hanya menampung, melainkan menjadi saluran yang mengalirkan berkat kepada sesama. Alkitab mengingatkan kita melalui 1 Yohanes 3:17 bahwa berkat tidak pernah dimaksudkan untuk ditimbun sendiri, "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" Ayat ini menunjukkan bahwa setiap berkat yang kita terima seharusnya menjadi sarana untuk menyatakan kasih Allah kepada sesama.
Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh, Yesus mengawali pengajaran-Nya dengan sebuah peringatan. Kata-Nya, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Yesus menggambarkan seorang kaya yang berhasil mengumpulkan hasil panen melimpah. Alih-alih menggunakan kelimpahan itu untuk memberkati orang lain, ia justru berfokus pada diri sendiri dengan berkata, "Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" Tuhan menyebutnya bodoh, sebab ia gagal memahami makna sejati dari berkat yang diterimanya itu. Ia lupa bahwa segala sesuatu yang dimilikinya berasal dari Tuhan dan memiliki tujuan ilahi di baliknya. Ia menimbun harta di bumi tanpa pernah berpikir untuk menjadi "kaya di hadapan Allah", yaitu hidup yang berlimpah dalam kasih, kemurahan hati, dan ketaatan kepada kehendak-Nya. Melalui perumpamaan ini, kita perlu memeriksa diri agar jangan sampai kita pun disebut bodoh. Menjadi "blessing carrier" berarti senantiasa menyadari bahwa setiap berkat adalah titipan Tuhan yang harus dikelola demi kemuliaan-Nya dan kesejahteraan orang lain. Jadilah kaya di hadapan Allah dengan membuka tangan dan hati, sehingga melalui hidup kita, kasih dan kebaikan Tuhan dapat nyata dirasakan oleh banyak orang. [KH, LS]