Banyak dari kita berpikir bahwa untuk menjadi berkat, kita harus berada dalam kondisi terbaik. Kita menunggu "musim yang tepat" untuk memberi, melayani, dan menguatkan. Kenyataannya, hidup tak selalu ada di musim yang ideal. Ada masa kekurangan, kelelahan, ketidakpastian, bahkan luka yang belum sepenuhnya pulih. Kita belajar dari tokoh-tokoh Alkitab. Rasul Paulus mencukupkan diri baik di saat berkecukupan maupun kekurangan. Namun ia tak menunggu keadaan cukup untuk memberkati. Barzilai muncul di saat Daud melarikan diri dan dalam kondisi sulit. Barzilai sudah tua, tak lagi "produktif", namun tetap memberi dukungan dan menyediakan kebutuhan bagi Daud (2 Sam. 19:31-39). Menjadi berkat tak dibatasi usia. Bahkan di masa yang dianggap "sudah lewat", kita tetap bisa jadi berkat. Gadis Israel yang menjadi tawanan di rumah Naaman justru menjadi alat Tuhan. Dalam kondisi sebagai korban, ia tetap peduli dan memberi solusi dengan mengarahkan tuannya kepada nabi Elisa (2 Raj. 5:2-3). Bahkan ketika hidup tak adil, kita bisa jadi berkat. Janda Sarfat tetap memberi, bahkan saat itu adalah makanan terakhirnya (1 Raj. 17:8-16).
Menjadi "blessing carrier" bukan tentang seberapa ideal keadaan kita, tetapi seberapa bersedia hati kita. Tuhan tak menunggu kita sempurna untuk memakai kita. Justru di tengah keterbatasan, kuasa-Nya menjadi nyata. Luka kita bisa jadi saluran penghiburan. Kekurangan bisa mengajarkan kita berbagi dengan tulus. Proses kita bisa menjadi kesaksian hidup bagi banyak orang. Apakah kita tetap mau dipakai Tuhan, bahkan di saat kita sendiri sedang berjuang? Apakah kita tetap memilih mengasihi, memberi, dan menguatkan, meskipun tidak mudah? Tuhan tak pernah salah menempatkan kita dalam suatu musim. Di tiap musim, selalu ada kesempatan menjadi berkat, melalui kata-kata tulus sederhana, tindakan dan sikap hati yang penuh kasih. Mulai saat ini, jangan tunggu musim berubah. Jadilah berkat di musim Anda berada saat ini. [RS]