RENUNGAN INSPIRASI
Tuhan mempertemukan kita dengan banyak orang, dan melalui mereka kita mengenal berbagai macam wujud kasih. Ada yang menyentuh hati kita dengan hadir dan mendengarkan, ada yang menuntun kita dengan kehangatan. Masing-masing memegang keindahannya tersendiri. Namun, melalui banyak perjumpaan, kita juga melihat bahwa ada waktunya kasih terasa dingin, bahkan tak berkelanjutan. Ketulusannya goyah oleh keadaan, kondisi hati, dan banyak hal yang melemahkan. Di sinilah kita diingatkan bahwa sekalipun kasih dari sesama nyata dirasakan, tapi tetap tidak sempurna—terkadang dapat bersifat setengah hati dan tidak abadi. Kita berhenti mengasihi setelah mendengar kelamnya masa lalu seseorang; saat diperlakukan tidak sesuai harapan; atau saat kenyamanan kita dipertaruhkan. Kenyataan ini tidak dimaksudkan untuk membuat kita putus asa dengan kasih sesama, melainkan menolong kita melihat bahwa manusia tidak pernah dimaksudkan menjadi sumber kasih yang utama. Kita tetap membutuhkan Pribadi yang menjadi dasar dan kepenuhan kasih itu sendiri.
Syukur kepada Allah, kita diizinkan berjumpa dengan kasih yang sejati, yaitu Pribadi Tuhan Yesus, Sang Sumber kasih. Alkitab menuliskan, kasih Tuhan dinyatakan sampai kesudahan. Kata "kesudahan" berasal dari bahasa Yunani "telos", yang menggambarkan kasih yang tidak henti-henti dan tidak setengah-setengah. Kasih-Nya utuh dan radikal. Sekali pun tak terbalaskan, Ia telah terlebih dahulu siap untuk mengasihi, bahkan di tengah pengkhianatan yang dilakukan oleh orang terdekat-Nya. Ini tidak hanya merujuk pada Yudas dan Petrus di masa itu, tapi juga bagi masing-masing kita yang seringkali menjauh dari-Nya. Kita yang pernah mengalami kasih-Nya, namun perlahan menjadi dingin dan acuh. Namun bahkan di titik itu kasih-Nya tidak pernah undur, Ia tetap tinggal, menanti, dan memulihkan kita. Kasih-Nya tidak berhenti di puncak pengorbanan, tetapi terus mengalir sampai kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, bahkan hingga detik ini. Kasih itu masih menjangkau, memulihkan, dan membentuk hidup kita hari ini—bukan sekadar untuk kita nikmati, tetapi untuk kita hidupi. Maka dari itu, marilah kita mendekat kepada Tuhan yang akan memampukan kita untuk mengasihi—bukan hanya ketika dihargai, tetapi juga ketika dipandang sebelah mata; bukan hanya ketika dimengerti, tetapi juga ketika disalahpahami. Kiranya kasih Tuhan terus memenuhi kita dan mengalir kepada sesama. [SR]