Kenaikan Yesus ke sorga bukan sekadar penutup dari pelayanan-Nya di bumi, melainkan juga peralihan bentuk pelayanan dan penghubung penting antara karya-Nya di bumi dengan karya-Nya di surga. Firman Tuhan menyatakan bahwa Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara bagi kita. Sebagai Pengantara, Ia bukan sekadar menyampaikan permohonan dan kebutuhan kita di hadapan Bapa. Ia juga hadir di hadapan Bapa sebagai dasar pembelaan kita, karena Ia telah mempersembahkan diri-Nya sebagai penebusan dosa-dosa kita. Oleh karena itu, kita memiliki akses yang terus terbuka kepada Bapa melalui Yesus, Pembela kita.
Jika Anda pernah dibantu oleh seseorang yang memiliki otoritas untuk menyelesaikan urusan yang tidak mampu Anda tangani sendiri, gambaran itu sedikit menolong kita memahami posisi kita di hadapan Allah melalui Yesus sebagai Pengantara. Kita datang bukan karena kita hebat atau layak, tetapi karena ada Pribadi yang mewakili kita dan memastikan kita diterima. Bayangkan jika semua akses itu bergantung pada diri kita sendiri—pada kebaikan, konsistensi, atau keberhasilan rohani kita. Cepat atau lambat, kita akan sadar bahwa kita tidak mampu mempertahankannya. Kita sering jatuh, kita bisa gagal. Namun kabar baiknya, hubungan kita dengan Allah tidak dibangun di atas performa kita sendiri, melainkan di atas karya Kristus yang sempurna. Firman Tuhan menegaskan bahwa jikalau kita jatuh ke dalam dosa, kita mempunyai seorang Pengantara, yaitu Yesus Kristus yang adil. Ia bukan hanya membela kita, tetapi juga menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita. Artinya, pembelaan-Nya bukan tanpa dasar, Ia telah membayar harga itu sepenuhnya. Karena itu, saat kita jatuh dan mengalami kegagalan, kita tidak langsung ditolak, sebab ada yang membela kita di hadapan Bapa. Namun kebenaran ini bukan alasan bagi kita untuk hidup sembarangan. Rasul Yohanes menegaskan bahwa mengenal Dia berarti hidup dalam ketaatan. Kasih karunia yang memberi kita Pembela tidak pernah memisahkan kita dari panggilan untuk hidup benar. Justru karena kita dibela, kita dipanggil untuk berjalan seperti Kristus telah berjalan. Jadi, keberanian kita untuk datang kepada Tuhan bukanlah keberanian yang sembrono, melainkan keberanian yang lahir dari anugerah, disertai hati yang rindu untuk tetap tinggal di dalam Kristus dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, kenaikan Yesus Kristus memastikan satu hal, bahwa kita tidak pernah berjalan dan berjuang sendirian dalam hidup ini, sebab ada Pribadi yang membela kita di hadapan Allah. [LS]