Penyimpangan rohani tidak hanya terjadi melalui tindakan yang jelas-jelas salah, seperti mengikuti nabi palsu atau menerima ajaran yang menyesatkan. Ia kerap bersembunyi di balik kecenderungan menyeleksi kebenaran bagaikan "menu" yang bisa dipilih, iman yang dijalani sesuai selera pribadi, mengutamakan hal-hal yang nyaman didengar dan mudah diterima, serta memuaskan pengetahuan semata. Inilah yang disebut "hyper-curated faith". Dalam kondisi seperti ini, aktivitas rohani tetap berlangsung, bahkan bisa semakin intens, namun yang sesungguhnya sedang dijalankan bukanlah kehendak Tuhan secara utuh, melainkan agenda pribadi.
Kehidupan iman yang sehat pada dasarnya tidak selalu membawa kenyamanan; bahkan sering kali bertentangan dengan natur kita yang cenderung mendambakan kendali dan kepuasan diri. Kita ingin tetap merasa bertumbuh tanpa harus mengalahkan diri sendiri atau sungguh-sungguh melepaskan kedagingan. Hal ini tampak dalam pilihan-pilihan praktis seperti hadir dalam ibadah hanya ketika tema atau pengkhotbahnya menarik baginya, mengharapkan jalan keluar namun enggan menjalani proses pembentukan dari Tuhan, enggan melayani orang-orang yang dianggap berbeda dan tidak menguntungkan secara pribadi. Kehidupan yang terbiasa mengkurasi proses pendewasaan iman ini perlahan mengikis esensi kebenaran ilahi. Padahal, seluruh kebenaran Tuhan yang utuh; itulah yang seharusnya ditaati. Tuhan adalah pusat kehidupan orang percaya, sehingga segala yang kita hidupi dan nyatakan melalui hidup ini seharusnya berakar sepenuhnya pada kebenaran-Nya. Maka itu, kita perlu berbenah diri saat ciri-ciri "hyper-curated faith" ada dalam diri kita. Marilah kita belajar menguasai diri dalam segala hal, sambil mengesampingkan kepercayaan dan pengertian yang salah, serta agenda pribadi dalam relasi kita dengan Tuhan. Mulailah dari kebenaran yang paling sulit kita hidupi—kebenaran yang mungkin terasa di luar zona nyaman, membosankan, atau menuntut pengorbanan. Tinggalkan kehidupan iman yang dikurasi demi kenyamanan, dan pilihlah iman yang dibentuk oleh Tuhan—sekali pun tidak mudah dan tidak nyaman, karena itulah yang benar dan akan berbuah. [SR]