Di banyak komunitas Kristen, kita familiar dengan orang-orang yang memberi dengan sangat royal â baik melalui persembahan, pelayanan, maupun dukungan materi lainnya. Secara lahiriah, tindakan tersebut mulia dan patut dihargai. Namun, kita juga familiar dengan bahaya tersembunyi di balik segala pemberian itu. Diantaranya, muncul perasaan lebih berjasa, lebih rohani, atau merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus dalam suatu sistem pelayanan atau aturan komunitas. Keresahan ini berakar dari pemahaman bahwa tidaklah alkitabiah dan bijaksana untuk menilai tingkat kerohanian seseorang berdasarkan karunia atau besarnya pemberian yang seseorang lakukan. Sebab Alkitab mengajari kita perbedaan karunia rohani dan buah Roh. Karunia adalah pemberian anugerah Allah untuk membangun tubuh Kristus, sedangkan buah Roh mencerminkan karakter yang telah diubahkan melalui proses pengudusan. Seseorang dapat memiliki karunia yang mengagumkan, namun tanpa buah Roh â khususnya kasih dan kerendahan hati, pelayanannya kehilangan makna sejati.
Rasul Paulus memberi peringatan yang sangat tajam, "sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." Nilai sebuah pemberian tidak pernah diukur dari jumlahnya, melainkan dari motivasi hati. Memberi dapat menjadi tindakan yang sia-sia apabila dilakukan demi pengakuan, status, atau rasa superioritas. Dengan kata lain, pemberian yang besar tidak otomatis mencerminkan kedewasaan rohani. Inilah salah satu fondasi yang harus diperhatikan dalam upaya kita menjadi seorang "blessing carrier". Secara praktik, kita perlu menerapkan standar yang Yesus ajarkan ketika memberi. Kata-Nya, "janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." Ini adalah perintah Yesus yang menggunakan metafora hiperbolik untuk merahasiakan pemberian sedemikian rupa hingga bahkan kita sendiri hampir tidak menyadari bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang terpuji. Inilah pentingnya kerahasiaan dan kemurnian motivasi dalam memberi. Karena itu, menjadi "blessing carriers" bukan tentang seberapa banyak Anda memberi, melainkan tentang bagaimana pemberian kita dibentuk oleh kasih dan kerendahan hati. Pemberian yang sejati tidak menuntut pengakuan, tidak mencari posisi istimewa, dan tidak menjadikan karunia sebagai alat untuk meninggikan diri. Mari senantiasa periksa motivasi dan berlatihlah memberi secara tersembunyi. [LS]