Kita tidak memerlukan data statistik untuk mengetahui bahwa "anxiety" (kecemasan) telah menjadi epidemi. Sementara kita mencari tahu akar masalah dari kecemasan seseorang, fakta terpentingnya adalah orang-orang di sekitar kita menjalani kehidupan yang penuh tekanan. Mereka kewalahan, dan mereka membutuhkan bimbingan/tuntunan dari orang-orang terdekat, di tempat mereka paling sering berada. Itu artinya, membimbing rekan yang cemas bukan hanya tugas pendeta dan pemimpin rohani. Kita sebagai umat percaya—imamat rajani—telah dianugerahi hikmat melalui firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus untuk saling mengasihi dan menolong. Dan karena kecemasan ada di mana-mana, kita dipanggil untuk hadir dan membimbing satu sama lain.
Membimbing rekan yang cemas bukan hal yang mudah. Kita rentan salah bicara, karena kita tidak benar-benar menjalani hidup mereka. Oleh karena itu, sikap pertama yang harus kita miliki adalah kesabaran. Kita sering gagal disini sekali pun niat kita baik. Kita akan menghadapi respons mereka yang pesimis, negatif, bahkan tidak masuk akal. Rasul Paulus mengingatkan kita untuk bersabar terhadap mereka yang lemah, takut, dan tawar hati. Sedangkan kejengkelan tidak menghasilkan kebenaran Allah. Dengan kesabaran, kita dapat memberi diri untuk hadir bagi mereka. Kehadiran disini bukan hanya secara fisik. Orang yang cemas ini perlu tahu bahwa kita berada di dunia yang sama dengannya. Jadi, kita perlu relevan dengan perasaannya. Dengan kesabaran dan kehadiran seperti ini, kita dapat dengan hati-hati menggiring perspektif melalui pertanyaan: "apa yang paling membuatmu takut/cemas saat ini?", "dari semua yang kamu takuti, mana yang benar-benar terjadi, mana yang belum terjadi?", "kira-kira apa yang sedang Tuhan kerjakan atau tunjukkan kepadamu dalam situasi seperti ini?" Ingat, di samping bersabar dan hadir, tujuan akhir kita adalah menyampaikan kebenaran Injil yang penuh harapan. Karena itu, lanjutkan dengan pertanyaan yang menolong mereka melihat harapan di dalam Tuhan, "melihat perjalananmu sejauh ini, adakah momen Tuhan menolongmu melewati masa-masa yang berat?". Di saat-saat tertentu, tutup pembicaraan dengan doa bersama. Membimbing rekan yang cemas tidak selesai dalam sehari dua hari. Kita bukan dipanggil untuk menjadi penyelamat bagi mereka, tetapi menjadi orang yang dengan sabar menuntun mereka kembali melihat Tuhan di tengah kecemasannya. [LS]