Kita hidup dalam budaya yang mengejar posisi, pengakuan, dan pencapaian. Banyak orang berjuang untuk mendapatkan jabatan di pekerjaan, pelayanan, bahkan dalam komunitas rohani. Ironisnya, tidak sedikit pula yang setelah mendapatkannya justru menyalahgunakannya, menjalaninya dengan setengah hati, atau kehilangan integritas di tengah jalan. Kita melihat fenomena ini secara nyata, seperti: pemimpin yang jatuh karena kompromi, pelayan yang mundur karena kecewa, atau orang yang menjadi lupa diri karena posisinya. Jabatan menjadi sesuatu yang dikejar, tetapi menjalankannya adalah urusan yang sama sekali berbeda.
Dalam Kisah Para Rasul 1:15-22, kita melihat momen penting setelah pengkhianatan Yudas. Petrus berdiri di tengah-tengah jemaat dan mengutip Mazmur, "Biarlah jabatannya diambil orang lain." Ini bukan sekadar pergantian posisi—ini adalah peringatan serius bahwa jabatan dalam rencana Allah tidak pernah kosong tanpa alasan, tetapi orang di dalam jabatan juga harus setia dan bertanggung jawab saat dipercaya. Yudas pernah dipilih, berjalan bersama Yesus, menyaksikan mujizat, dan dipercaya memegang keuangan. Namun, ia kehilangan semuanya karena pengkhianatan (ketidaksetiaan). Dari sini, kita belajar hal penting terkait jabatan. Pertama, jabatan adalah anugerah dan kepercayaan, bukan hak. Ketika seseorang kehilangan posisinya, itu mengingatkan kita bahwa Tuhan bisa mempercayakan tugas itu kepada orang lain. Kedua, ketidaksetiaan membuka pintu penggantian. Yudas digantikan karena kegagalannya dalam menjaga panggilan. Dunia hari ini sering mentolerir kompromi, tetapi Tuhan tetap mencari hati yang setia. Ketiga, Tuhan selalu menyiapkan orang lain. Matias dipilih untuk menggantikan Yudas. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan tidak pernah berhenti karena satu orang gagal. Karena itu, jabatan harus diemban dengan kerendahan hati. Keempat, kriteria Tuhan berbeda dari dunia. Alkitab tidak menekankan popularitas Matias, melainkan kesetiaannya sejak awal (ay. 21-22). Tuhan melihat konsistensi, dan bukan hanya kapasitas. Karena itu, di tengah dunia yang sibuk mengejar posisi, pergumulan utama kita bukanlah "apa jabatan saya", melainkan "bagaimana saya menjaga kesetiaan dan tanggung jawab dalam tugas yang dipercayakan saat ini". Jangan sampai suatu hari nanti seseorang berkata tentang kita "biarlah jabatannya diambil orang lain". Sebaliknya, hiduplah sedemikian rupa untuk menjaga, menjalankan, dan menyelesaikan apa yang Tuhan percayakan sampai akhir. [LS]