Yeremia menerima perintah Tuhan di saat yang paling tidak masuk akal. Ia sedang dipenjara (ditahan di pelataran penjaga), Yerusalem dikepung Babel, dan pembuangan bangsa itu sudah di depan mata. Dalam situasi demikian, Tuhan memerintahkan Yeremia membeli sebidang tanah di Anatot. Perintah ini seakan bertabrakan dengan realitas, karena secara militer, Anatot–kota satelit Yerusalem, berada di wilayah penaklukan Babel. Tanah itu tidak akan dapat diakses, dikelola, apalagi dinikmati. Pembelian ini jelas merugikan. Namun terlepas dari logika ini, Yeremia tetap membeli tanah itu. Di titik ini kita tahu Yeremia berinvestasi dalam ketaatan kepada Tuhan, bukan semata-mata atas tanah tersebut. Ia menaati Tuhan bukan karena situasinya menjanjikan, melainkan karena firman Tuhan berdaulat atas segala situasi. Yang tak kalah menarik, Tuhan memerintahkan agar seluruh proses pembeliannya dilakukan dengan tertib. Dimulai dari menimbang uang, menandatangani akta, memeteraikannya, menghadirkan saksi, dan menyimpan dokumen pembelian itu dengan aman. Jadi pembelian ini merupakan ketaatan yang dilakukan dengan sadar, terukur, dan bertanggung jawab. Yeremia berpegang pada janji firman Tuhan bahwa pada masa yang akan datang, surat pembelian itu akan menjadi sangat berharga. Kelak orang-orang di negeri itu akan kembali berjual beli rumah, kebun, dan ladang. Jadi, ini bukan sembarangan investasi, Yeremia mempercayai janji Tuhan yang lebih besar bahwa pemulihan bangsa akan terjadi.
Kehidupan iman sering kali menuntut kita membeli tanah yang gersang, melangkah ketika hasil belum terlihat, dan taat ketika perintah Tuhan terasa tidak masuk akal. Jadi yang perlu kita renungkan apakah kita cukup percaya bahwa firman Tuhan selalu lebih pasti daripada kenyataan yang sedang kita hadapi. Kisah Yeremia menantang kita untuk berinvestasi dalam ketaatan. Sebutkan apa yang Tuhan minta untuk Anda taati sekarang, apakah itu melangkah untuk memberi, mengampuni, menjaga kesetiaan, melayani, atau terus berharap di tengah situasi yang belum berubah. Seperti Yeremia, kita mungkin tidak langsung melihat manfaat dari ketaatan itu. Namun setiap langkah taat yang kita ambil adalah benih yang Tuhan janjikan bernilai pada waktunya. Karena itu, jangan menunda ketaatan hanya karena situasinya tidak masuk akal. Investasi yang Tuhan perintahkan hari ini bisa menjadi kesaksian pemulihan yang akan dinikmati di masa depan—bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan setia menepati janji-Nya. [LS]