Kita hidup di dunia yang telah rusak oleh dosa. Karena itu, berbagai peristiwa yang sulit dan tidak adil sering terjadi. Yesus sendiri mengalaminya ketika para pemimpin agama berusaha membunuh-Nya. Iri hati, rasa terancam, dan kekhawatiran terhadap pengaruh-Nya membuat hati mereka dipenuhi kebencian. Meskipun tidak ditemukan kesalahan pada diri Yesus, mereka terus mencari cara untuk menyingkirkan-Nya.
Ketika para pemimpin agama menyusun berbagai strategi untuk menjatuhkan-Nya, Yesus justru menghadapi semuanya dengan cara yang berbeda. Yesus menghadapi "peperangan-Nya" dengan datang kepada Bapa melalui doa. Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan (Ibr. 5:7). Yesus merasakan kegentaran dan kesedihan yang sangat dalam saat menghadapi salib, bahkan sampai seperti mau mati rasanya. Namun di tengah pergumulan itu, Ia bersujud dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa, "Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Yesus sebenarnya dapat menghindari penderitaan itu. Namun melalui doa, Ia justru diteguhkan dan dikuatkan untuk menghadapi penangkapan, siksaan, dan salib. Dari doa Yesus, kita mengerti bahwa doa bukanlah jalan pintas atau sarana menghindari persoalan. Doa adalah tempat di mana hati diselaraskan dengan kehendak Allah dan kekuatan untuk taat diberikan. Di sanalah kemenangan dimulai. Karena itu Yesus juga mendorong Petrus dan kedua anak Zebedeus untuk berjaga-jaga dan berdoa. Ia tahu bahwa daging manusia lemah dan mudah jatuh ke dalam pencobaan—baik karena ketakutan, keinginan diri, maupun berbagai godaan dari luar. Demikian juga bagi kita. Dalam menghadapi pergumulan hidup, langkah pertama bukanlah bertindak secara reaktif atau panik, melainkan terlebih dahulu mencari wajah Tuhan. Datanglah kepada-Nya dalam doa. Berhenti sejenak, masuklah ke dalam kamar, curahkan isi hati, dan tundukkan diri di hadapan-Nya. Ingat, kemenangan tidak dimulai ketika masalah selesai, tetapi ketika kita berlutut dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan, seperti Yesus yang memulai kemenangan-Nya saat berdoa di Taman Getsemani. [SR]