Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus mengingatkan bahwa bangsa Israel—sekali pun telah mengalami kasih setia Tuhan di padang gurun—tetap dapat jatuh dalam pencobaan dan ketidaktaatan (1 Kor. 10:1-12). Peringatan ini memberi tahu kita satu kebenaran: tidak seorang pun kebal terhadap godaan. Karena itu Paulus menegaskan bahwa Allah setia, Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita, dan Ia selalu menyediakan jalan ke luar (1Kor. 10:13). Meski begitu, sikap yang dituntut disini bukanlah berleha-leha atau bersantai-santai, melainkan berjaga-jaga dalam ketergantungan kepada Tuhan. Inilah prinsip yang Yesus teladankan ketika Ia menaklukkan godaan Iblis di padang gurun (Mat. 4), sekaligus yang Ia tegaskan di taman Getsemani: "Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan" (Mat. 26:41).
Tuhan Yesus mengetahui kelemahan daging manusia, dan karena itu Ia mengarahkan murid-murid kepada disiplin rohani yang menjaga hati tetap peka dan kuat. Doa menempatkan kita dalam kewaspadaan rohani, sementara puasa merendahkan diri dan menundukkan kedagingan, sehingga hati kita tetap tertuju kepada Allah dan tidak mudah diseret oleh godaan. Di tengah dunia yang penuh pencobaan dan tipu daya, pertahanan kita sebagai orang percaya adalah berjaga-jaga melalui doa dan puasa. Ketika hidup dibangun di atas kebiasaan rohani ini, kita tidak hidup lengah, tetapi siap berdiri teguh, peka terhadap bahaya rohani, kuat menanggung pencobaan, dan tetap berjalan dalam kemenangan oleh pertolongan Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita berdoa dan berpuasa sebagai bentuk kesiapan kita dalam berjaga-jaga dan menaklukkan berbagai serangan iblis yang mencobai dan menggoda kita. [AP]