Pesan Tuhan di dalam bacaan Alkitab hari ini menyiratkan bahwa kita perlu melakukan puasa. Sebab "waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Dalam konteksnya, ini adalah jawaban Yesus kepada murid-murid Yohanes yang bertanya, "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Dari pertanyaan mereka, kita melihat ada pemahaman yang keliru terkait kewajiban beragama yang mereka lakukan. Mereka memperlihatkan puasa mereka dan keberatan dengan murid-murid Yesus karena tidak berpuasa. Dari pertanyaan mereka pula, tampaknya mereka tidak tahu mengapa dan untuk apa mereka berpuasa.
Jawaban Yesus adalah: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?" Ini menandakan saat itu bukanlah saat yang tepat bagi mereka untuk berpuasa. Karena itu, puasa tepat saat kita tahu kapan dan untuk apa kita melakukannya. Puasa dapat dilakukan ketika kita sedang berduka atas kehilangan. Di masa-masa tersebut, kita berpuasa untuk mengarahkan emosi serta pikiran kita kepada Tuhan untuk menerima pengharapan dari-Nya. Puasa dapat dilakukan ketika kita berduka atas dosa, seperti yang dilakukan Ezra atas dosa orang Israel (Ezra 10:6). Sudah sepantasnya kita pun berduka, mengakui, dan berpuasa ketika kita atau keluarga, gereja, bahkan bangsa kita bergumul dengan dosa. Puasa juga tepat ketika kita berusaha menaklukkan dosa dan godaan (Yesaya 58:6), seperti Yesus yang menaklukkan Iblis di padang gurun. Berpuasa juga dilakukan ketika kita mencari pertolongan Tuhan di tengah kesulitan dan kesesakan, seperti Ester yang meminta orang-orang berpuasa di kala ia memohon kemurahan raja (Ester 4:15-16). Kita juga berpuasa ketika mencari hikmat dan wahyu dari Tuhan, seperti Daniel (Daniel 9-10), dan Musa (Keluaran 24). Puasa juga dilakukan saat kita mempersiapkan diri untuk pelayanan dan tugas besar, seperti yang dilakukan Paulus dan Barnabas beserta para penatua (Kis. 14:23), dan terakhir, dengan berpuasa kita juga melatih pengendalian diri. Jadi, jangan lagi terjebak dengan pemahaman puasa hanya sebagai rutinitas atau kewajiban agama yang perlu dipamerkan. [LS]