Ada saat dimana kita tidak dapat mengontrol hal-hal yang terjadi, tetapi kita selalu bisa memilih respons kita terhadap keadaan tersebut. Akan hal ini, kita bisa belajar dari seorang gadis tawanan Israel yang berada di Aram, yakni di negeri musuhnya. Gadis tawanan dari Israel ini menjadi pelayan dari isteri seorang panglima tentara Aram yang bernama Naaman. Yang menarik dari kisah ini adalah bagaimana gadis tersebut menunjukkan iman dan kebaikan hatinya kepada orang yang mungkin saja terlibat dalam penawanan dirinya. Saat Naaman menderita penyakit kusta, gadis inilah yang memberitahu istri Naaman bahwa ada nabi di Israel yang bisa menyembuhkan penyakit suaminya. Sulit membayangkan kondisinya; ia diambil dan terpisah dari keluarganya, lalu menjadi budak. Namun ia tidak menjadi pahit hati terhadap Tuhan. Di tengah penderitaan dan ketidakadilan yang dialaminya, ia tetap percaya Tuhan masih bekerja. Justru dari mulutnya-lah keluar berita pengharapan bagi orang asing. Kata gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya." (2 Raj. 5:3). Melalui gadis ini, Tuhan memakainya untuk mempertemukan Naaman dengan nabi Elisa, yang akhirnya menjadi jalan kesembuhan dan pertobatan bagi Naaman. Naaman sembuh total dari kustanya dan kemudian mengakui bahwa tidak ada Allah lain selain di Israel.
Titik balik seorang Namaan tidak dimulai dari seorang jenderal, raja, atau nabi, tetapi dari seorang budak perempuan dari Israel. Gadis yang tidak disebutkan namanya ini bukan siapa-siapa di kalangannya pada saat itu, ia hanyalah seorang tawanan perang. Namun melalui hidupnya-lah orang lain diselamatkan. Tidak ada situasi, penderitaan, dan kesulitan yang sia-sia di tangan Tuhan. Dalam ketertindasan sekali pun, Tuhan tetap punya maksud ilahi. Bahkan dalam penderitaan, Tuhan sedang menulis cerita besar-Nya melalui hidup kita. Asal kita tetap percaya akan kebaikan, penyertaan, dan rancangan kebaikan Tuhan, sambil menjaga ketaatan, kesetiaan, dan tidak mengeluh dalam keadaan sulit. Percayalah bahwa Tuhan bisa memakai kita menjadi saluran berkat, bahkan di tempat yang paling tidak kita harapkan. [RS]