Dalam Kitab Bilangan pasal 11, orang-orang asing yang ikut dalam rombongan bangsa Israel yang sedang dituntun Tuhan di padang gurun menuju Tanah Perjanjian dikatakan kemasukan nafsu rakus. Mereka mengeluh dengan kondisi yang dihadapi, dan keluhan itu menular dengan cepat sehingga seluruh bangsa ikut merengek meminta daging dan mengingat kehidupan di Mesir, sementara manna yang Tuhan berikan setiap hari tidak lagi memuaskan hati mereka. Hal itu dipandang jahat di hadapan Tuhan, sebab hati mereka telah dikuasai rasa tidak puas dan tidak percaya pada pemeliharaan Tuhan. Yang menarik, Tuhan tidak langsung menghukum bangsa Israel. Ia justru mengirimkan burung puyuh dalam jumlah yang sangat besar untuk satu bulan penuh. Namun, sementara daging itu masih ada di mulut mereka, murka Tuhan menyala dan banyak orang yang dikuasai nafsu rakus mati. Pemberian itu menyingkapkan isi hati mereka yang dikuasai oleh nafsu rakus.
Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan terkadang mengizinkan kita memperoleh apa yang kita inginkan sebagai bagian dari didikan-Nya yang menyingkapkan isi hati kita. Ujian iman tidak selalu datang dalam bentuk kekurangan; sering kali juga muncul di tengah kelimpahan. Di sanalah terlihat apakah hati kita merasa cukup dan tetap rendah di hadapan Tuhan, atau mulai dikuasai keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Dalam kehidupan sehari-hari, "puyuh" masa kini bukan hanya makanan, tetapi juga dapat berupa uang, pengakuan, atau jabatan. Hal-hal ini tidak selalu salah, namun menjadi berbahaya ketika lahir dari hati yang tamak dan tidak pernah puas. Melalui kisah ini, Tuhan memanggil kita untuk belajar merasa cukup di hadapan-Nya, bersyukur atas "manna" yang Ia berikan, dan berjalan dengan iman setiap hari. Sebab berkat terbesar bukanlah memiliki lebih banyak, melainkan memiliki rasa cukup dan puas di hadapan Tuhan. [DS]