Dalam perjalanan rohani, setiap orang pernah jatuh, gagal menjaga hati, atau mengambil keputusan yang melukai Tuhan maupun sesama. Kita mungkin baru saja menghakimi orang lain. Kita mungkin masih menyimpan iri hati atau dendam terhadap seseorang. Atau kita mungkin baru saja membiarkan pikiran yang tidak kudus bercokol dalam hati. Yang menjadi persoalan bukan hanya ketika kita jatuh dalam dosa, yang tidak kalah menjadi persoalan adalah sikap hati kita setelahnya. Apakah kita menganggapnya sebagai hal biasa dan segera melupakannya, ataukah kita sungguh menyadari kesalahan dan menyesal atasnya? Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu menyadari bahwa dosa merusak dan mengganggu hubungan kita dengan Allah. Firman Tuhan berkata dalam Yesaya 59:2 bahwa pelanggaran kita lah yang memisahkan kita dari Allah. Karena itu, hati yang peka dan respons yang benar sangatlah penting dalam perjalanan kita melawan dosa.
Kita melihat teladan Ezra yang memiliki rasa tanggung jawab rohani sebagai pemimpin, dengan mengidentifikasi diri dengan umat yang ia layani (Ezra 9:6). Ketika mendengar tentang dosa umat yang menyimpang dari kehendak Tuhan, hatinya hancur—ia mengoyakkan pakaiannya, mencabut rambutnya, lalu duduk tertegun dalam dukacita di hadapan Tuhan (Ezra 9:3). Dukacita itu tidak berhenti pada perasaan, tetapi membawanya kepada doa yang sungguh-sungguh dan kerendahan hati di hadapan Allah. Dalam pergumulan itu, Ezra bersama umat Allah merendahkan diri dengan doa dan puasa, memohon belas kasihan serta pemulihan dari Tuhan (Ezra 10:1,6). Dukacita atas dosa melahirkan pertobatan yang sejati, dan pertobatan membawa mereka kembali kepada Tuhan. Puasa bukan sekadar menahan lapar, menunda minum, atau berhenti sejenak dari media sosial. Lebih dari itu, puasa adalah tindakan merendahkan diri di hadapan Tuhan, menyingkirkan berbagai distraksi, dan memusatkan hati sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika kita berduka atas dosa dan memilih untuk berdoa serta berpuasa, kita sedang berkata kepada Tuhan, "Tuhan, ampuni aku, aku rindu dipulihkan." Karena itu, datanglah kepada Tuhan dengan doa dan puasa, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Bukan hanya pengampunan yang kita terima, tetapi juga pembaruan hati dan kekuatan untuk hidup benar. [IR]