Di era yang penuh persaingan, kita sering merasa harus menonjolkan diri, membangun citra, dan menyingkirkan apa pun yang tidak sesuai dengan kehendak pribadi. Tanpa sadar, kita mulai menggeser Tuhan dari pusat kehidupan kita. Ambisi dan kebutuhan untuk diakui menjadi lebih dominan. Orientasi hati kita yang semula ingin memuliakan Tuhan, kini lebih sibuk membesarkan nama sendiri. Kita semua harus berhenti sejenak dan memeriksa diri. Tanyakan dengan jujur, siapa yang benar-benar bertakhta dalam hidup kita—Yesus atau ego kita.
Firman Tuhan memanggil kita pada keputusan yang perlu dihidupi secara sadar setiap hari, yaitu dalam segala hal yang kita lakukan – saat bekerja, melayani, berbisnis, Tuhan harus makin besar, dan diri kita harus makin kecil. Ini bukan ajakan untuk membenci diri atau kehilangan gambaran diri yang sehat, melainkan keberanian untuk menurunkan diri dari takhta yang diam-diam sudah kita duduki, dan mengembalikannya kepada Tuhan. Sering kali kita merasa mampu, seolah-olah keberhasilan lahir dari kerja keras dan kecakapan kita sendiri. Namun di balik setiap nafas, setiap kesempatan, dan setiap pintu yang terbuka, ada tangan Tuhan yang berdaulat. Dialah yang memberi kemampuan, kekuatan, bahkan kesempatan untuk berdiri hari ini. Tanpa Dia, kita bukan hanya kurang maksimal—kita bahkan tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh. 15:5). Tetapi hidup yang berpusat pada Kristus berarti pikiran, perasaan, dan kehendak kita tidak lagi menjadi pusat kendali, melainkan alat di tangan-Nya. Itu artinya kita rela dikoreksi, rela diarahkan ulang, rela gagal di mata manusia asalkan tetap setia di hadapan Tuhan. Kita berhenti menjadikan diri sebagai sumber otoritas, dan dengan jujur mengakui diri kita terbatas, dan sepenuhnya membutuhkan Tuhan. Saat kita kembali merendahkan diri di hadapan Tuhan, perubahan itu nyata. Kita melayani tanpa haus pengakuan. Kita memberi tanpa menuntut balasan. Kita taat bahkan ketika itu tidak nyaman dan tidak menguntungkan. Karena yang kita kejar bukan lagi agenda pribadi, melainkan kemuliaan Tuhan di atas segalanya. Kiranya kita berani membuka hati dan berkata seperti Pemazmur, "Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!" Biarlah hidup ini lebih banyak berbicara tentang Tuhan daripada tentang diri kita, melalui setiap kata yang kita ucapkan, setiap keputusan yang kita ambil, dan setiap langkah yang kita jalani. [SR]