Ketika seseorang memiliki privilege lahir dalam keluarga berkelimpahan, memiliki banyak warisan, dan tidak pernah merasakan apa itu kekurangan, muncul godaan untuk hidup secara pasif dan mengalir. Privilege bisa berubah menjadi jebakan yang membuat seseorang kurang berjuang, kurang bekerja keras, bahkan kurang bergantung kepada Tuhan.
Salah seorang yang memiliki privilege adalah Ishak. Ia memiliki latar belakang keluarga yang berkelimpahan. Ayahnya, Abraham, adalah seorang yang sangat kaya. Seluruh harta utama Abraham diwariskan kepadanya. Secara manusiawi, Ishak memiliki cukup alasan untuk hidup nyaman dan bersandar pada apa yang sudah tersedia. Tetapi Ishak menunjukkan dirinya bukan sebatas pewaris berkat, ia menunjukkan diri sebagai pengelola yang setia dan pekerja yang tekun. Di tengah masa kelaparan dan kondisi tanah yang sulit, pilihan paling mudah adalah menikmati warisan atau mencari tempat lain yang lebih menjanjikan. Tetapi sesuai perintah Tuhan, Ishak tetap tinggal dan ia pun menabur di tanah yang sama. Ia tidak membiarkan privilege membuatnya pasif. Imannya kepada Tuhan lebih besar daripada rasa amannya terhadap harta warisan. Ia bekerja, ia menabur benih, dan Alkitab mencatat bahwa Tuhan memberkati apa yang Ishak lakukan sehingga ia menuai seratus kali lipat dan menjadi semakin kaya. Ishak mengalami lonjakan pertumbuhan luar biasa di tengah masa krisis. Banyak penafsir melihat bahwa Ishak bukan hanya mewarisi kekayaan, tetapi juga menggandakannya. Beberapa di antara kita mungkin memiliki privilege tertentu, entah itu keluarga yang mendukung, pendidikan di atas rata-rata, atau akses yang tidak dimiliki semua orang. Tanamkan dalam pikiran bahwa privilege tidak meniadakan kerja keras, melainkan memberi tanggung jawab lebih besar untuk dikembangkan. Apakah kita mau menjadi orang yang hanya menerima dan menghabiskan, atau kita mau menabur, bekerja keras, dan memperbesar? Ingat, Tuhan memberkati hati yang mau taat dan tangan yang mau bekerja. Seperti Ishak, kita perlu bekerja keras, karena pertumbuhan terjadi ketika iman diwujudkan melalui kerja nyata. [DS, LS]