Raja Salomo dikenal sebagai raja Israel yang berhikmat dan sangat kaya. Ia anak Raja Daud dari Betsyeba. Beberapa kitab dalam Perjanjian Lama juga ditulis olehnya, seperti Kidung Agung, Pengkhotbah, serta beberapa bagian dari kitab Amsal. Meskipun ia memulai hidup dan pemerintahannya dengan amat baik, Salomo akhirnya jatuh karena 700 istri dan gundiknya menyeretnya pada penyembahan berhala. Tuhan membangkitkan musuh-musuh melawannya, dan setelah kematiannya, kerajaan Israel mulai mengalami berbagai goncangan. Dari Salomo kita belajar bahwa memulai dengan baik saja tidak cukup; yang terpenting adalah setia menjalani dan menyelesaikan proses kehidupan sampai akhir.
Rasul Paulus berkata, "Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Tim. 4:7). Paulus menggambarkan hidup sebagai sebuah pertandingan, seperti lari maraton yang membutuhkan ketekunan, stamina, dan fokus pada garis akhir. Kita menghadapi tantangan, ujian, dan pencobaan yang berlangsung sepanjang hidup, karena itu kita perlu iman dan pengharapan dengan mata yang tertuju kepada Yesus (Ibr. 12:2). Paulus sendiri memberi teladan dengan melupakan apa yang ada di belakangnya (Fil. 3:13). Dosa, kegagalan, bahkan kebanggaan masa lalu harus ditanggalkan karena semuanya dapat menjadi rintangan yang menghambat langkah kita. Ketika mata kita hanya tertuju kepada Yesus, Ia yang memampukan kita memulai, akan menyertai kita pula sampai akhir, sehingga kita dapat menyelesaikan pertandingan iman dengan kuat. Karena itu, mari kita fokus memandang Yesus dengan menjadikan relasi dengan-Nya sebagai prioritas, menjadikan firman-Nya sebagai peta hidup sehari-hari, dan secara sadar mengakui dosa, melepaskan kepahitan, luka, atau kebanggaan masa lalu yang mengalihkan fokus kita selama ini dari Kristus. [JA]