Luka dalam keluarga kebanyakan tidak lahir dari niat jahat, melainkan dari kata-kata yang tidak dijaga, ekspektasi yang tidak pernah dibicarakan, peran yang tidak berjalan dan/atau dipaksakan, dan kasih yang tidak pernah diekspresikan secara langsung. Yang menyedihkan, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seseorang, justru lebih sering menjadi sumber luka terdalam. Yang lebih berbahaya, luka keluarga tidak selalu terlihat, tetapi itu membentuk cara seseorang memandang dirinya, memperlakukan orang lain, bahkan memandang Tuhan. Secara umum orang akan belajar tentang penerimaan, nilai diri, dan kasih pertama kali di rumah—dan ketika itu tidak berjalan secara ideal, luka kerap dibawa hingga dewasa, bahkan diwariskan tanpa disadari.
Tuhan tidak menutup mata terhadap luka dalam keluarga. Kita melihat Yusuf hidup dalam keluarga yang tidak sehat secara emosional, favoritisme terjadi di rumahnya. Rumah Yusuf bukan rumah yang aman, rumah itu penuh kompetisi dan luka batin. Luka itu bahkan melahirkan pengkhianatan keluarga yang berdampak panjang. Tetapi pernyataan Yusuf dalam bacaan Alkitab hari ini menjadi kesaksian pemulihan yang luar biasa: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." Kata "lupa" di sini bukan berarti Yusuf menghapus ingatan masa lalunya, melainkan Allah menyembuhkan dampak luka itu sehingga luka keluarga tak lagi menguasai hidupnya. Diri Yusuf dipulihkan sebelum keadaan eksternal berubah, sehingga ia mampu mengasihi, mengampuni, dan bersikap dewasa ketika kembali berhadapan dengan keluarganya. Pemulihan tidak selalu secara instan mengubah ayah, ibu, kakak atau adik kita, tetapi mengubah cara kita memikul luka. Yusuf dipulihkan sebelum ia dipertemukan kembali dengan saudara-saudaranya—dan dari pemulihan itulah ia sanggup mengampuni. Inilah prinsip dari Kolose 3:13, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lainâ€Â¦ sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu." Kita perlu terlebih dahulu membuka hati menerima pemulihan dari Tuhan, lalu memilih mengampuni sebagai tindakan iman dan respons ketaatan. Ketika kita izinkan Tuhan menyembuhkan luka keluarga, kita bukan hanya dipulihkan, tetapi juga dipakai untuk memutus rantai luka dan menghadirkan kasih Kristus dalam relasi kita hari ini serta keluarga yang akan kita bangun kedepannya. [LS]