Pernahkah Anda merasa seperti disudutkan? Mungkin Anda dituduh melakukan sesuatu yang tidak Anda lakukan, atau kebenaran yang Anda tahu seolah-olah tidak mungkin diungkapkan. Kata-kata Anda tidak didengar, bukti yang ada terasa memojokkan, dan Anda merasa sendirian menghadapi ketidakadilan. Dalam situasi seperti itu, sangat mudah bagi kita untuk putus asa, marah, bahkan ingin menyerah. Namun, di tengah kegelapan dan ketidakadilan yang menimpa kita, ada satu kebenaran ilahi yang harus kita pegang teguh: Tuhan melihat. Ia tahu segalanya, dan Ia tidak pernah sedetik pun meninggalkan kita.
Yusuf adalah seorang pemuda yang hidup benar, namun harus melewati jalan yang penuh ketidakadilan (Kej. 39). Setelah dijual oleh saudara-saudaranya dan menjadi budak di Mesir, ia bekerja di rumah Potifar. Yusuf adalah pekerja "high-achiever". Alkitab mencatat, "TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya" (Kej. 39:2). Potifar pun mempercayakan segala sesuatu kepadanya. Namun, kesetiaan Yusuf justru membawanya ke dalam penderitaan. Ia menolak godaan istri Potifar dengan tegas, karena ia tidak mau berdosa terhadap Allah (Kej. 39:9). Penolakan itu berujung pada fitnah. Yusuf dijebloskan ke dalam penjara—karena kebenaran yang tidak dibela. Kebenarannya seakan terkubur, dan Yusuf harus menanggung akibat dari kebohongan orang lain. Dalam situasi seperti itu, wajar jika kita bertanya: Apakah Tuhan melihat dan peduli? Alkitab menjawab, "TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya" (Kej. 39:21). Bahkan di balik jeruji besi, Tuhan tidak meninggalkan Yusuf. Tuhan tetap bekerja, memelihara, dan mempersiapkannya. Kebenaran memang tidak langsung dinyatakan. Yusuf harus menunggu bertahun-tahun dalam penjara. Namun, waktu Tuhan tidak pernah keliru. Melalui proses yang sunyi dan menyakitkan dalam penjara, Tuhan mempersiapkan Yusuf untuk rencana yang lebih besar: menjadi alat keselamatan bagi banyak orang. Pada akhirnya, kebenaran itu bersinar, dan keadilan Tuhan ditegakkan. Kisah Yusuf mengajar kita untuk tetap setia ketika kebenaran belum terlihat. Saat difitnah, disalahpahami, atau diperlakukan tidak adil, marilah kita tetap percaya bahwa Tuhan berdaulat dan sedang bekerja, meskipun kita belum melihat hasilnya. Waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Mazmur 37:5-6 menjadi janji yang menguatkan kita, "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang." Tuhan adalah Pembela kebenaran kita. Ia akan membuat keadilan bersinar pada waktu-Nya. Tugas kita adalah tetap percaya, setia, dan berserah kepada-Nya. [EH]