Anak pertama kali belajar memahami hidup dari rumah. Orang tua menjadi "guru" pertama yang membentuk cara berpikir, berbicara, dan bersikap mereka. Seiring pertumbuhan, anak-anak tidak hanya mendengar nasihat, tetapi terutama meniru apa yang mereka lihat. Karena itu, teladan orang tua jauh lebih berpengaruh daripada sekadar kata-kata.
Pola hubungan inilah yang Tuhan pakai untuk membentuk bangsa Israel setelah Ia membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Mereka telah ditetapkan sebagai umat pilihan Allah. Di Gunung Sinai, Allah mengikat perjanjian dengan mereka melalui Musa dan memberikan Hukum Taurat sebagai standar hidup yang benar. Allah memahami bahwa 400 tahun hidup dalam perbudakan Mesir telah membentuk pola pikir dan kehidupan yang dipengaruhi penyembahan berhala dan praktik yang amoral. Karena itu, umat yang baru merdeka ini perlu "dididik ulang" dalam kebenaran Allah. Tuhan memerintahkan para orang tua Israel untuk mengajarkan firman-Nya dengan tekun kepada anak-anak mereka: ketika duduk di rumah, dalam perjalanan, saat berbaring, dan ketika bangun. Firman itu bukan hanya untuk diucapkan, tetapi dihidupi—menjadi bagian dari pikiran, perkataan, dan perbuatan—agar generasi berikutnya tidak melupakan Tuhan, melainkan hidup dalam iman dan takut akan Dia. Prinsip ini berlaku hingga hari ini. Rasul Paulus menegaskan tanggung jawab orang-orang dewasa dalam iman untuk mendidik anak-anak dan generasi muda di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Kasih karunia Allah yang menyelamatkan keluarga kita tidak pernah menghapus tanggung jawab kita sebagai orang tua. Karena itu, mari kita menilai, kualitas apa saja yang sedang dan sudah kita wariskan? Apakah anak-anak dan generasi muda lebih banyak melihat Kristus dari perkataan kita, dan terlebih dari cara hidup kita? Mulailah dari hal sederhana seperti mendoakan mereka secara konsisten, membicarakan firman Tuhan dalam keseharian, dan hiduplah dengan integritas. Sebab iman yang diteladankan setiap hari jauh lebih kuat daripada pengajaran yang hanya sesekali diucapkan. [AP]