Ada orang yang hidup benar, lurus, adil, dan bermoral. Kepada mereka, kita mudah menghormati, menghargai, dan mendukung mereka. Ada pula orang-orang yang hidupnya memancarkan kasih Tuhan, murah hati, lemah lembut, dan tulus. Terhadap pribadi seperti ini, kebanyakan dari kita bahkan bersedia memberi waktu, tenaga, dan sumber daya dengan sukarela. Mengasihi orang-orang seperti ini terasa wajar, bahkan relatif mudah. Namun pertanyaannya berubah ketika seseorang justru berada di titik tergelap hidupnya. Bagaimana kita memperlakukan mereka yang jatuh, terhina, dan seakan tidak layak dikasihi? Gambaran ini sesungguhnya tidak jauh dari kehidupan lama kita sendiri. Kita pernah berada di kondisi yang tak mampu dipulihkan oleh usaha manusia atau kekuatan diri sendiri. Hanya oleh kasih Allah kita ditarik keluar dari kegelapan hidup dalam dosa.
Kita adalah orang-orang yang seharusnya binasa karena dosa. Karena itu, keselamatan adalah karya Allah. Kasih-Nya tidak pernah bergantung pada siapa kita atau apa yang telah kita lakukan. Tidak ada kasih yang dapat disamakan dengan kasih Allahâkasih yang dinyatakan ketika Kristus rela mati bagi kita, yang oleh dosa-dosa kita, telah menjadi seteru Allah. Kini, hampir dua ribu tahun telah berlalu sejak pengorbanan Kristus di kayu salib, namun kasih-Nya tidak berhenti di sana. Karya keselamatan-Nya memang telah tuntas, tetapi kasih-Nya terus bekerja dalam kehidupan kita. Tuhanlah yang melayakkan kita, menopang kita, dan setia hadir di setiap musim kehidupan kita di tengah kelelahan, kekecewaan, kejatuhan, dan pergumulan. Allah masih menyatakan kasih-Nya melalui pemeliharaan-Nya setiap hari. Menyadari bahwa kita dikasihi sedalam iniâbahkan di saat kita rapuh dan berdosaâkiranya kita pun mau hidup dengan hati yang menghargai dan memelihara kasih-Nya. Sebab hanya di dalam Allah kita menemukan kasih yang sejati: kasih karunia yang berdaulat, tanpa syarat, dan kekal; kasih yang tidak pernah dapat digantikan oleh apa pun atau siapa pun. Kasih inilah yang memulihkan hati kita dan membentuk cara kita memandang sesama. Ketika hidup kita berakar pada kasih Allah, kita tidak lagi mengasihi untuk mencari penerimaan, melainkan mengasihi sebagai respons atas anugerah yang telah lebih dahulu kita terima. [SR]