Dalam proses mendidik anak, sering kali tanpa sadar suara kita meninggi dan kata-kata kita melukai. Aturan ditegakkan, tetapi amarah ikut tumbuh. Anak mungkin belajar patuh, namun ketaatan itu kerap dibayar dengan hati yang terluka dan jarak yang menjauh.
Firman Tuhan hari ini menegur cara kita mendidik anak. Kita memang diberi otoritas, tetapi anak bukanlah "bawahan". Mereka adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Karena itu, relasi dengan anak seharusnya dibangun sebagai relasi yang menumbuhkan rasa aman, kedekatan, dan ketergantungan yang sehat. Itu sebabnya Rasul Paulus menasihatkan, "Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu." Paulus tidak menolak disiplin, tetapi menentang sikap otoriter. Kata "amarah" (parorgizo) menunjuk pada tindakan yang memancing pemberontakan batin, yaitu yang menekan, mengabaikan, dan menumpuk frustrasi tersembunyi. Hal ini terjadi ketika disiplin dijalankan tanpa relasi, teguran tanpa empati, dan aturan tanpa kebenaran. Sebaliknya, Paulus mengajak orang tua untuk "mendidik" (ektrephÅ)âmemberi makan, merawat, dan menumbuhkan hingga dewasa dengan penuh perhatian. Kata ini juga dipakai untuk menggambarkan cara kita memelihara tubuh kita sendiri (Ef. 5:29). Artinya, anak diperlakukan dengan kelembutan yang sama seperti kita merawat tubuh kita. Kemudian ajaran (paideia) disini ialah proses pendidikan menyeluruh yang membentuk karakter, nilai, kebiasaan, dan identitas. Sedangkan nasihat (nouthesia) menekankan penanaman kebenaran ke dalam pikiran dan hati melalui percakapan yang bermaknaâbukan bentakan, melainkan dialog yang membangun dan membimbing. Semua proses ini harus bersumber dari Tuhan, mencerminkan karakter-Nya, dan mengarahkan hati kepada-Nya. Jika cara kita mendidik justru membuat anak sulit percaya bahwa Tuhan itu baik dan penuh kasih, maka cara itu tidak berasal dari Tuhanâsekalipun dibungkus dengan ayat-ayat Alkitab. Ingat, yang paling dibutuhkan anak bukanlah banyaknya perintah, melainkan teladan. Mereka belajar dengan mengikuti jejak hidup kita. Kristus, Sang Gembala Agung, tidak memimpin dengan tekanan dan ancaman, melainkan dengan kehadiran dan kasih. Ia berjalan bersama murid-murid-Nya, menegur dengan kasih, dan mengampuni dengan pengorbanan. Jika demikian cara Kristus menggembalakan kita, mengapa kita berharap anak-anak bertumbuh dalam iman melalui ketakutan dan ancaman? Kiranya melalui cara kita mengasuh, anak-anak dapat melihat wajah Tuhan yang penuh kasih, sabar, dan setia. [RS]