Di dalam bacaan Alkitab hari ini, Lukas menuliskan bahwa Paulus memberi penghormatan kepada Raja Daud saat ia menggambarkan Daud sebagai orang yang berkenan di hati Allah dan melakukan kehendak Allah pada zamannya. Zaman dimana Daud hidup dan memimpin tidaklah mudah. Bangsa Israel baru saja mengalami kekacauan moral dan politik di bawah Raja Saul (1 Sam 13:8-14; 16:14; 22:17-19). Allah memanggil Daud bukan hanya untuk berperang, tetapi juga untuk memimpin bangsa kembali kepada hati Tuhan, menjadikan hadirat Allah sebagai pusat kehidupan mereka (2 Sam 5:10; 6), dan meski Daud tidak sempurna bahkan pernah jatuh dalam dosa besar, Daud mau ditegur, bertobat, dan berbalik kepada Tuhan. Demikianlah gambaran kehidupan Daud pada zamannya. Ia tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, namun juga menjadi alat Tuhan yang membentuk arah sejarah.
Saat ini, kita pun hidup di zaman yang menentukan. Indonesia sedang mengalami bonus demografi — mayoritas penduduknya adalah generasi muda produktif. Ini bukan sekadar data statistik; ini adalah tanda zaman. Tuhan sedang mempercayakan masa depan bangsa ini di tangan generasi muda. Namun pada saat yang sama, dunia juga sedang berada di "civilizational moment" — sebuah momen peradaban di mana nilai, arah, dan moral manusia sedang diuji. Teknologi maju pesat, pengetahuan berkembang, tapi banyak orang lupa melakukan kehendak Allah pada zaman ini, yaitu membangun peradaban yang beriman dan berintegritas. Seperti Daud yang melakukan kehendak Allah di zamannya, kita pun harus melakukan kehendak Allah di zaman ini. Perhatikan bahwa di setiap civilizational moment, akan lahir dua jenis orang, yaitu mereka yang dibentuk zaman, dan mereka yang membentuk zaman. Daud dipersiapkan di padang sebelum naik takhta. Generasi muda hari ini pun sedang dipersiapkan Tuhan. Karena itu, latih kepemimpinan mulai dari hal-hal kecil, mulai dari tanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap pekerjaan, dan terhadap hubungan dengan sesama. Gunakan profesi, bakat, dan posisi untuk menebarkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Jadikan kantor, kampus, sekolah, bahkan media sosial sebagai altar pelayanan. Di setiap kesibukan dan produktivitas, jangan sampai kehilangan dampak dan arah. Pastikan produktivitas kita selaras dengan maksud Tuhan, agar kita bukan sekadar aktif dan sukses, namun juga berguna bagi maksud Allah di zaman ini. [LS]