Saat kita membaca ayat hari ini, ada sesuatu yang sangat menguatkan hati bahwa Allah memilih kita manusia, sebagai pusat kasih-Nya. Allah tak menyatakan kasih-Nya kepada malaikat, makhluk surgawi yang melayani-Nya dan yang sedari awal berada dalam takhta kemuliaan-Nya. Bahkan dikatakan kitalah yang harus memperoleh keselamatan. "Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: Duduklah di sebelah kanan-Ku â€Â¦ Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?" (Ibrani 1:13-14). Malaikat tidak menerima kasih karunia seperti kita. Justru kita manusia yang sering merasa lemah, takut, terbatas, bahkan bisa jatuh dalam dosa, adalah yang paling dikasihi Allah secara istimewa. Kasih Allah kepada kita bukan karena kita hebat apalagi sempurna, melainkan karena Allah yang adalah kasih, ingin menyelamatkan dan memulihkan hubungan dengan kita. Itu sebabnya, saat datang ke dunia ini, Yesus pun mengambil rupa menjadi manusia, bukan menjadi malaikat, untuk menyelamatkan kita. Yesus menanggung penderitaan kita, turut merasakan kesedihan kita (Fil. 2:6-8), dan untuk waktu yang singkat menjadi sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat (Ibrani 2:7).
Bahkan Allah tidak menebus malaikat yang jatuh, yakni Iblis. Rencana penebusan hanya ditujukan bagi kita. Malaikat yang jatuh karena kesombongannya, tak hanya berbuat dosa, tetapi menjadi sumber dosa dan menjadi penentang Allah secara aktif. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Malaikat yang jatuh itu tidak dipulihkan, karena tak menginginkan pertobatan dan tetap menentang Allah sampai akhir. Dan kita manusia yang jatuh karena diperdaya oleh tipu daya Iblis, karena itulah Allah menawarkan penebusan-Nya melalui Yesus. Kita mendapat anugerah dan diampuni, menunjukkan satu bukti terbesar bahwa kita sangat berharga di mata Allah. Inilah yang harus kita sadari! Kita bukan sekadar bagian dari ciptaan-Nya, tetapi kita adalah pusat kasih-Nya. Kita anak-anak-Nya yang Ia kasihi. "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?" Jawabannya kini jelas, "Karena Kristus mengasihi kita!" [RS]