Banyak dari kita yang sulit keluar dari zona nyaman karena di sanalah kita merasa mampu, terbiasa, dan aman. Tetapi, sering kali di sana pula kita berhenti bertumbuh. Dalam perjalanan iman, Tuhan tidak selalu bekerja di wilayah yang sudah kita kuasai dan sukai. Dalam panggilan-Nya, Tuhan kadang mengajak kita melangkah lebih jauh dari yang kita pikirkan dan rencanakan. Ia kerap mengajak kita melangkah ke tempat yang asing–ke tempat di mana iman percaya kita diuji. Bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membentuk dan mengasah.
Setelah kematian Musa, Yosua dihadapkan pada tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sebelumnya, yaitu memimpin bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian. Yosua tidak melangkah dengan keyakinan diri, melainkan dengan hati yang gentar. Itu sebabnya Tuhan berulang kali berkata, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu." Tuhan memperingatkan Yosua agar tidak kalah dengan rasa takut dan bimbangnya. Yosua bukan hanya harus melangkah keluar dari zona nyamannya, tetapi juga menghadapi ketakutan, tantangan, dan ketidakpastian yang nyata. Panggilan Tuhan sering kali lebih besar dari rasa mampu kita, agar kita belajar bersandar dan semakin menyadari betapa besarnya kuasa Tuhan dapat dinyatakan dalam hidup kita. Menariknya, Tuhan tidak menjanjikan situasi yang mudah, tetapi Ia menjanjikan penyertaan yang setia. Firman-Nya menjadi pegangan di tengah ketidakpastian, dan kehadiran-Nya menjadi kekuatan saat langkah terasa berat. Di luar zona nyaman, iman dibuktikan melalui ketaatan dan juga rasa percaya bahwa Tuhan berjalan di samping kita, dan tangan-Nya tidak pernah melepaskan kita. Karena itu, jika saat ini Tuhan memanggil kita pada satu tugas yang lebih besar dan terasa lebih berat, percayalah bahwa sesungguhnya Ia sedang membentuk karakter, iman, dan ketergantungan kita kepada-Nya. Melangkah keluar dari zona nyaman bukan tentang keberanian diri sendiri, melainkan tentang keberanian dan ketaatan yang bersumber dari kepercayaan penuh kepada Tuhan. [FD]