Kita familiar dengan perintah Allah kepada Abraham untuk mempersembahkan Ishak, anaknya. Kita pun tahu perintah itu tidak mudah sama sekali. Jika Tuhan memerintahkan hal yang sama kepada kita, sudah pasti kita bergumul secara emosional dengan perintah semacam ini. Jika bisa mengulur waktu, kita akan ulur selama mungkin. Tapi Alkitab tidak mencatat Abraham mengulur-ulur waktu. Ia bangun pagi-pagi, bersegera menaati perintah Tuhan.
Kisah Abraham memberi kita teladan iman dan ketaatan, yaitu kesediaan untuk segera menaati Allah sekalipun perintah-Nya tampak sulit dan tidak menyenangkan. Pada masa itu, Abraham tidak memiliki Firman Allah yang tertulis dan dapat dibaca berulang-ulang seperti yang kita miliki sekarang; ia menaati Allah berdasarkan satu perintah yang ia dengar secara jelas dan berotoritas dari Allah. Wahyu itu tidak disampaikan berkali-kali, namun cukup bagi Abraham untuk segera mengambil tindakan taat. Dan pada masa kini, Allah telah menyatakan kehendak-Nya secara lengkap dan cukup melalui Firman-Nya yang tertulis di dalam Alkitab. Karena itu, kita tidak menantikan perintah baru di luar Firman, melainkan dipanggil untuk tunduk dan taat pada apa yang telah Allah nyatakan. Allah tidak pernah bertentangan dengan Firman-Nya sendiri, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan kita dinyatakan dengan mempercayai dan melakukan perintah-perintah Tuhan yang telah tertulis. Misalnya, perintah untuk mengasihi orang-orang sulit, perintah untuk memberi bagi pelayanan Injil dan jemaat yang membutuhkan, atau perintah untuk mengampuni orang yang sudah sangat menyakiti kita. Kita tahu ada banyak perintah sulit seperti itu di dalam Alkitab, dan pelajaran kita hari ini adalah untuk segera menaatinya. Jika kita terus bernegosiasi dengan Tuhan dan menghindari perintah-Nya yang sulit, iman kita tidak akan bertumbuh. Sebab iman bertumbuh lebih kuat saat diwujudkan dalam tindakan (Yak. 2:17); dan saat kita lebih cepat dalam menaati Tuhan, kita akan terbiasa mengutamakan perintah-Nya di atas ketakutan, keraguan, dan preferensi pribadi kita. Karena itu, marilah kita seperti Pemazmur, "Aku bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu." [LS]