Lukisan "Cain Flying Before Jehovah̢۪s Curse" karya Fernand Cormon, menggambarkan tragedi manusia pertama yang menumpahkan darah adiknya sendiri. Setelah membunuh Habel, Tuhan mengutuk Kain dan mengusirnya dari tanah tempat ia tinggal. Di dalam lukisan itu, Kain dan keluarganya tampak melarikan diri. Kain dalam posisi berlari, terseret, diliputi ekspresi kesakitan dan rasa bersalah. Ia diikuti oleh istri dan anak-anaknya, menambah dimensi keputusasaan. Latar gurun yang suram menambah kesan kutukan. Namun di belakang mereka, kehadiran Tuhan digambarkan secara simbolik sebagai cahaya yang kuat. Pelarian Kain mencerminkan rasa bersalah, kutukan, dan konsekuensi dari dosanya. Keputusasaan keluarganya menunjukkan bahwa dosa seseorang dapat berdampak pada orang lain.
Ada yang menarik dari kisah pelarian ini, bagaimana Kain bernegosiasi dengan Tuhan dan berkata, "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku." Tuhan pun menjawab, "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Maka Tuhan menaruh tanda pada Kain, agar ia tidak dibunuh oleh siapa pun yang menemuinya. Setelah itu, Kain pergi dari hadapan Tuhan dan menetap di tanah Nod. Tuhan menaruh tanda yang menandakan penghukuman Kain karena Kain membiarkan dosa menguasai hidupnya, sekaligus menandakan belas kasih, anugerah, dan pemeliharaan Tuhan. Kisah Kain menjadi cerminan bagi kita, dimana ada saat-saat kita membiarkan dosa menguasai hidup kita lewat kemarahan, iri hati, kebencian, dan keputusan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Seperti Kain, hari ini kita mungkin berada di "tanah Nod", tempat kosong dan jauh dari hadapan Tuhan. Namun satu yang pasti, tanda kasih Tuhan tetap tersedia. Kain tidak dibinasakan dan kita pun tidak ditinggalkan. Yang kita butuhkan adalah hati yang mau berbalik dari dosa-dosa. Mari akui dan berbalik kepada Tuhan agar kita dapat menerima pemulihan. Jangan terus tenggelam di dalam "pelarian"! [RS]