Orang-orang sulit (difficult people) biasanya pernah mengalami kejadian-kejadian pahit dalam hidupnya. Katakanlah seorang yang kasar, pemarah, atau mudah tersinggung. Ada juga orang yang selalu bermasalah dengan sesamanya, karena sebenarnya ia belum bisa mengampuni seseorang yang pernah melukainya. Pengalaman menyakitkan ini menyebabkan kemarahan dan luka di dalam diri seseorang. Berawal dari sikap mengasihani diri sendiri, bertumbuh menjadi sikap sinis dan dingin terhadap orang lain, dan menyebabkan kebencian terhadap banyak orang. Kemarahan yang tidak dibereskan di dalam hati akan melahirkan kejahatan lainnya.
Kemarahan adalah akar dari segala kejahatan. Layaknya akar yang tidak tampak di permukaan, kemarahan akan mempengaruhi kita secara tersembunyi, dan mengontrol kita sehingga menimbulkan kekacauan serta mencemari kehidupan kita. Itu sebabnya firman Tuhan memerintahkan kita untuk membuang segala kepahitan, kegeraman, dan kemarahan. Kita diberitahu cara untuk menang melawan segala kemarahan yaitu dengan berperilaku ramah terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus pun telah mengampuni kita. Kita harus rela mengampuni. Sebab tanpa pengampunan, kemarahan akan berakar di dalam hati kita. Inilah yang seharusnya menjadi urgensi dan perhatian tentang betapa pentingnya kita untuk mengampuni. Jika saat ini kita masih menyimpan kemarahan terhadap seseorang, inilah saatnya kita belajar mengampuni. Mengingat betapa besar kerugian dan pengaruh emosi negatif yang diakibatkan oleh kemarahan kita, inilah saatnya kita jujur dengan diri sendiri mengenai kemarahan kita dan mengambil langkah untuk mengampuni orang yang telah membuat kita marah. Sebab kita pun telah diampuni Kristus. [RS]