Perbedaan sering kali kita pandang sebagai penghalang, sesuatu yang memecah, melukai, dan menghambat pekerjaan Tuhan. Kita cenderung berpikir bahwa kesatuan hanya mungkin terjadi ketika semua orang memiliki pandangan yang sama. Namun Alkitab memperlihatkan bahwa di tangan Tuhan, perbedaan tidak selalu menjadi ancaman, melainkan menjadi alat-Nya untuk membentuk, memurnikan, dan menggenapi rencana-Nya. Perenungan ini mengajak kita melihat bagaimana Tuhan bekerja, bahkan berdaulat, ketika perbedaan pendapat muncul di tengah orang-orang yang sama-sama mengasihi Dia dan melayani Injil.
Paulus dan Barnabas pernah berada di posisi berbeda pendapat mengenai keikutsertaan Yohanes Markus dalam misi mereka berikutnya. Saat itu Paulus menolak mengikutsertakan Yohanes Markus sebab ia berpandangan mundurnya Yohanes Markus di tengah perjalanan misi pertama menunjukkan ketidaksiapannya dalam bermisi. Namun sebaliknya, Barnabas tetap ingin mengikutsertakan Yohanes Markus sebab baginya misi ini dapat menjadi kesempatan bagi Yohanes Markus yang masih muda untuk memperbaiki diri, memperkuat mental, dan meneguhkan visi Injil yang telah ia terima. Akhirnya, mereka memutuskan berpisah jalur pelayanan. Di penghujung hidup Paulus, ternyata pelayanan Yohanes Markus justru menjadi penting dan berguna baginya dalam pelayanan Injil (Kol. 4:10; Flm. 1:24; 2 Tim. 4:11). Dari kisah mereka, kita memahami hal prinsip yang menjadi dasar pandangan dan keputusan dalam berelasi. Paulus dan Barnabas sama-sama memiliki alasan prinsip mengenai Yohanes Markus, dimana Paulus menekankan integritas misi dan kesiapan pelayan, sementara Barnabas menekankan pemuridan dan pemulihan. Perbedaan tidak selalu salah-benar, perbedaan juga bukan otomatis tanda kegagalan rohani. Sekali pun Paulus dan Barnabas berpisah jalur, tetapi mereka tetap satu Injil, satu Tuhan, satu tujuan. Kesatuan sejati berakar pada kebenaran Injil, bukan semata-mata pada struktur atau kebersamaan. Ketika hati tetap tertuju pada Injil dan karakter tetap dijaga, Tuhan bisa memakai perbedaan sebagai alat-Nya untuk memperluas pelayanan, membentuk karakter, dan memulihkan mereka yang sedang bertumbuh. Bahkan bagi Yohanes Markus kondisi tersebut menjadi sarana baginya untuk bertumbuh, hingga ia menuliskan injil Markus yang sangat berguna bagi jemaat di Roma dan bagi kita saat ini. [AP]