Apa yang muncul di benak Anda ketika menghadapi permasalahan hidup? Apakah Anda merasa hidup Anda seperti di luar kendali Tuhan? Atau Anda merasa sedang mengalami hukuman tak berujung? Di tengah kondisi seperti itu, ada satu kebenaran yang sering terlupakan, yaitu kasih Tuhan terhadap kita anak-anak-Nya. Setiap anak yang dikasihi-Nya pasti diproses, dibentuk, dan dididikâtanpa terkecuali.
Seperti seorang ayah yang mendidik anaknya, begitu juga Tuhan memperlakukan kita. Ayah yang baik tidak membiarkan anaknya rapuh, manja, dan tanpa arah; sebaliknya, ia menempa lewat berbagai pengalaman hidup, dengan dasar kasih dan tujuan yang baik. Tempaan itu mungkin terasa begitu menyakitkan, hingga duka cita menjadi respons yang paling spontan. Itu bukanlah beban tanpa tujuan, bukan juga pertanda nasib buruk. Di tengah ketidakberdayaan kita, Tuhan tetap setia menyertai dan memberi kekuatan, meski seringkali kita tidak menyadarinya. Setiap tempaan yang Ia izinkan telah dipertimbangkan sesuai kapasitas kita, sebab Ia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi melampaui kekuatan manusia (1 Kor. 10:13). Ketika proses hidup dijalani dengan setia bersama Tuhan, bahkan pengalaman paling berat pun tidak akan berakhir sia-sia. Ia memakainya untuk menumbuhkan buah kebenaranâkedewasaan di tengah tekanan, kesabaran yang lebih matang, dan kerendahan hati yang sebelumnya sulit diwujudkan. Karena itu, dalam setiap pergumulan, kita tidak hanya dipanggil untuk bertahan atau melewatinya, tetapi membuka hati pada pembentukan Tuhan. Jalan yang selalu mulus dan langit yang selalu cerah tidak akan membawa kita pada kekudusan; justru melalui tantangan, ketidaknyamanan, dan kehilangan, Tuhan menyempurnakan kita menurut rancangan-Nya. [SR]