Dalam perumpamaan tentang empat jenis tanah, benih hanya bertumbuh di tanah yang siap menampungnya (Mat. 13:8, 23). Benih itu adalah Firman, dan tanah itu adalah hati kita. Artinya, pertumbuhan rohani bukan hanya soal seberapa sering kita mendengar Firman, tetapi seberapa siap hati kita menerima Firman; menerima ajaran, didikan, dan teguran. Sebab hal yang penting bukan hanya benih Firman, tetapi juga kesiapan tanah hati kita untuk menjadi tempat benih itu bertumbuh.
Kita mungkin merindukan pertumbuhan, tetapi sayangnya kita tidak selalu siap dengan proses yang dibutuhkan. Kita ingin bertumbuh, namun enggan diajar. Kita mendambakan kedewasaan, tetapi menolak teguran karena terasa tidak nyaman. Padahal Yesus sendiri berkata bahwa setiap ranting yang berbuah pun tetap akan dibersihkan, supaya menghasilkan buah yang lebih banyak (Yoh. 15:2b). Pembersihan itu sering kali datang melalui koreksi dari sekitar kita ataupun Firman Tuhan yang menegur hati. Di sinilah kedewasaan diuji. Orang yang dewasa bukanlah orang yang merasa tahu segalanya, melainkan orang yang aman dalam identitasnya. Oleh karena ia merasa aman, maka ia tidak terancam saat diajar. Karena ia tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, ia tidak menolak saat dikoreksi. Ia memiliki kerendahan hati dan kerelaan untuk belajar, bahkan ketika ia harus menerima teguran yang tidak mengenakkan. Amsal mengajarkan bahwa orang bijak justru bertambah bijak ketika dinasihati. Ia tidak melihat koreksi sebagai serangan, melainkan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Hati yang demikian adalah tanah yang subur, siap menerima benih, siap diproses, dan siap menghasilkan buah. Dalam mengejar kedewasaan rohani, marilah kita melakukannya dengan hati yang terbuka dan rela untuk belajar serta diajar, dan hati yang tunduk akan tuntunan Tuhan. [JW]