Kekudusan adalah inti dari keberadaan Allah — Ia bukan hanya kudus, tetapi Ia adalah kekudusan itu sendiri. Di seluruh Alkitab, kekudusan Allah menjadi tolok ukur dari segala sesuatu yang benar, murni, dan layak di hadapan-Nya. Sayangnya, manusia sering kali gagal memahami betapa kudusnya Allah itu, dan tindakan manusia tidak menghormati kekudusan Allah. Sebagai contoh, kita beribadah tanpa rasa gentar akan kekudusan-Nya. Tanpa sadar, kita lupa betapa kudusnya Allah dan terdapat jarak yang tidak dapat kita gapai tanpa korban Yesus sebagai perantara antara kita dengan Allah.
Dalam kitab Zakharia, kita membaca penglihatan tentang Yosua, imam besar, yang berdiri di hadapan Tuhan dengan pakaian kotor (Zakharia 3:1-5). Meskipun Alkitab tidak mencatat secara eksplisit dosa pribadi Yosua seperti Musa, Daud, atau Salomo, namun dalam hadirat Allah yang kudus, bahkan seorang imam besar dengan reputasi rohani yang baik pun tampak najis. Gambaran ini menyingkapkan kenyataan yang tajam: bahwa kesalehan manusia, sebaik dan seindah apa pun di mata dunia, tidak dapat menembus standar kekudusan Allah yang sempurna. Meski demikian, Allah yang kudus tidak membiarkan Yosua dalam keadaan kotor. Ia sendiri yang memerintahkan malaikat untuk menanggalkan pakaiannya yang najis dan mengenakan kepadanya pakaian yang baru—tanda pembenaran dan penyucian yang datang dari anugerah-Nya semata. Jadi kekudusan Allah tidak meniadakan kasih-Nya; justru di dalam kekudusan itulah kasih Allah dinyatakan secara sempurna. Sebab hanya Allah kudus yang dapat menjadikan manusia berdosa benar dan kudus kembali—melalui karya penebusan Kristus dan pekerjaan penyucian Roh Kudus. Ketika kita menyadari hal ini, kekudusan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai panggilan untuk hidup di bawah kasih karunia-Nya, yaitu hidup yang terus disucikan, dibaharui, dan diarahkan untuk mencerminkan kemuliaan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan kita. [KH]