Setiap orang adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, keluarganya, atau komunitas kecil di sekitarnya. Secara umum, kita akan mengukur kepemimpinan seseorang dari karisma, tampilan, kecerdasan, atau kemampuan mengambil keputusan dengan cepat. Namun, Alkitab memberi tahu kita satu hal yang tidak kalah penting: pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang berdoa. Saat dihadapkan pada tanggung jawab memimpin bangsa yang begitu besar, Raja Salomo tidak meminta kekayaan, kemenangan, atau kehormatan, melainkan hikmat dari Tuhan. Permintaan itu lahir dari doa yang tulus. Salomo tidak mengandalkan manusia atau pengalamannya, tetapi ia bersandar penuh kepada Tuhan. Ia sadar bahwa tanpa penyertaan dan hikmat dari Allah, semua kekuatan dan sumber daya yang ia miliki tidak berarti apa-apa.
Doa adalah napas seorang pemimpin rohani. Doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Pemimpin yang bijak pasti berdoa, tidak sekadar mengandalkan insting, perasaan atau pemikirannya sendiri, tetapi mencari kehendak Tuhan di setiap langkah. Kepemimpinan yang berakar dalam doa akan menghasilkan keputusan yang penuh kasih, bijaksana, dan berdampak kekal. Tidak peduli apakah ia pemimpin gereja, rumah tangga, pekerjaan, bisnis atau bahkan memimpin diri sendiri, doa haruslah menjadi fondasinya. Doa menuntun kita untuk memimpin dengan kerendahan hati dan sikap yang takut akan Tuhan. Seperti yang tertulis "Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu." Kita perlu memiliki hati yang percaya pada rencana Tuhan yang terbaik. Mulailah berdoa sebelum mengambil keputusan, percayalah Tuhan akan mengarahkan segala keputusanmu. [IR]