Sebagai manusia biasa, ada hal-hal dalam diri kita yang disebut "blind spot", yaitu area yang sering tidak kita sadari, yang memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Kita tidak selalu bisa menjawab semua pertanyaan, kita tidak mampu melihat semua arah, dan kita tidak bisa selalu menilai diri kita secara objektif. Karena itu, Tuhan sering memakai orang lain untuk mengingatkan, menegur, dan menasihati kita. Sayangnya, banyak orang sulit menerima nasihat. Ketika "pride" atau harga dirinya terusik, mereka cenderung defensif. Amsal 12:15 berkata: "Jalan orang bodoh lurus dalam pandangannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak." Menolak nasihat berarti menutup diri dari pertumbuhan. Sebaliknya, mau mendengar nasihat berarti memberi ruang bagi Tuhan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan lebih berpengetahuan.
Apolos adalah pribadi yang patut kita teladani. Ia seorang pengajar yang pandai, fasih, dan bersemangat; tetapi pengertiannya belum lengkap karena baru mengetahui baptisan Yohanes. Suatu hari, ketika ia berkhotbah di rumah ibadat di Efesus, sepasang suami istri bernama Priskila dan Akwila mendengarnya. Dengan penuh hikmat, mereka tidak mempermalukan Apolos di depan umum, tetapi mengundangnya ke rumah mereka. Di sana, mereka menjelaskan jalan Allah dengan lebih teliti dan akurat. Yang menarik adalah respons Apolos terhadap pasangan pembuat tenda sederhana itu. Ia mendengarkan, menerima nasihat, dan membuka hati untuk belajar. Dari situ, pemahamannya tentang Injil semakin lengkap. Hasilnya, setelah Apolos melanjutkan perjalanannya ke Akhaya, oleh kasih karunia Allah, ia menjadi seorang yang sangat berguna bagi jemaat. Ia dengan berani berdebat di muka umum melawan orang-orang Yahudi, membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias. Benarlah kata penulis Amsal, "berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah." Karena itu, kebijaksanaan bukan hanya soal seberapa tinggi pengetahuan dan pendidikan yang kita miliki, tetapi seberapa rendah hati kita untuk mau terus diajar. Ingat, setiap nasihat adalah kesempatan untuk bertumbuh. Seperti kesediaan Apolos untuk menerima nasihat membuka jalan bagi Tuhan untuk memakainya lebih heran lagi. Karena itu, jangan cepat-cepat menolak nasihat, masukan, bahkan teguran; tetapi tanyakan: apakah Tuhan sedang berbicara lewat nasihat itu? Dengan demikian, kita membuka pintu untuk semakin bertumbuh dalam kebijaksanaan dan kedewasaan iman. [KH]