Semua orang dalam hidupnya pasti pernah mengalami keraguan. Entah itu keraguan dalam panggilan dan pelayanan, keraguan dalam keberhasilan masa depan, keraguan dalam hubungan dengan pasangan, bahkan keraguan terhadap diri sendiri. Perasaan itu adalah bagian dari pengalaman manusia yang terbatas. Hidup ini tidak selalu bisa diprediksi, terlebih jika saat ini kita sedang menghadapi realitas yang tampak berlawanan dengan janji Tuhan. Dalam keadaan seperti itulah keraguan sering muncul. Keraguan tidak hanya melemahkan iman, tapi juga merusak fokus rohani. Saat kita ragu, kita berhenti melihat kepada Tuhan dan mulai menatap situasi. Kita menjadi seperti Petrus yang sempat berjalan di atas air, namun tenggelam ketika fokusnya berpaling dari Yesus kepada tiupan angin. Saat kita mulai ragu, pertanyaan penting yang seharusnya kita jawab adalah apakah kita akan menyirami keraguan itu dengan pikiran-pikiran negatif, atau kita akan melakukan nasihat Yakobus, yaitu bertanya kepada Tuhan, meminta hikmat-Nya dengan penuh keyakinan.
Alih-alih memelihara keraguan, marilah kita belajar untuk menenangkan diri, berdoa dan menundukkan diri di bawah terang kebenaran Tuhan. Setiap kali keraguan muncul, ubahlah itu menjadi kesempatan untuk meminta hikmat dengan iman, katakan: "Tuhan, tolong aku, beri aku hikmat, beri tahu aku apa yang Tuhan ingin ajarkan padaku, beri tahu aku apa yang harus kulakukan dalam situasi ini". Pengkhotbah Spurgeon menyarankan kita untuk menyatakan harapan, kondisi, dan seluruh masalah kita secara tepat di hadapan Tuhan seakan-akan kita sedang menceritakan kisah kita kepada seorang teman yang cerdas, bersedia mendengar, dan siap membantu kita. Percayalah kita akan menerima hikmat – hikmat yang bukan hanya menjawab setiap pertanyaan, tetapi juga yang menguatkan hati untuk tetap percaya sekalipun jalannya belum kelihatan. Ingat, keraguan memang menjadi bagian alami dari perjalanan hidup manusia, tetapi orang percaya tidak boleh memelihara perasaan itu dan tinggal di dalamnya. [LS]