Salomo, raja paling berhikmat, mempersonifikasikan hikmat seperti seorang pengkhotbah publik. Ia menjelaskan bagaimana hikmat itu berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan, di pintu gerbang kota, yaitu tempat berdagang/berbisnis, tempat mengambil keputusan dan membentuk kebiasaan. Artinya, hikmat tidak menyembunyikan "dirinya", atau dengan kata lain, kita tahu bahwa Allah tidak menyembunyikan kehendak-Nya. Kebenaran hadir bukan hanya di ruang ibadah, tetapi di tengah realitas hidup; contohnya melalui surat teguran di dalam pekerjaan, melalui saran dan masukan konsumen terhadap rasa atau pelayanan bisnis kita, melalui hubungan yang rasanya lebih banyak drama daripada saling membangun, dan juga melalui pilihan moral sehari-hari. Hikmat memanggil semua orang, hanya saja responsnya sangat personal, apakah kita mau menerima dan mengikutinya, atau menolak dan mengabaikannya.
Karena itu, perhatikanlah apakah kita termasuk ke dalam golongan penolak hikmat seperti yang disebutkan berikut ini, "Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan?" Hikmat memulai seruannya kepada orang-orang yang tak berpengalaman. Saat Tuhan bertanya "berapa lama lagi?", Ia sedang menegur orang-orang yang merasa nyaman dengan ketidaktahuan mereka, yang bangga dengan kepolosan, keluguan, dan ketumpulan dalam membedakan benar-salah. Sehingga mereka tidak berusaha mencari hikmat. Kemudian yang kedua ialah pencemooh, yaitu tipikal orang sombong dan arogan (Ams 21:24). Mereka meremehkan hikmat Allah, karena merasa paling tahu segalanya. Mereka bisa mentertawakan hal-hal yang sebenarnya penting. Kemudian tipe ketiga yaitu mereka yang bebal dan benci pada pengetahuan. Orang bebal bukan sekadar "bodoh". Dalam Bahasa Ibrani, "bebal" disini sama dengan "keras hati". Jadi persoalan mereka selain "tidak tahu" adalah "tidak mau tahu". Itu sebabnya mereka membenci pengetahuan, termasuk pengertian rohani yang berasal dari rasa takut akan Tuhan (Ams 1:7). Jadi, orang bebal bukan hanya malas belajar, mereka juga menolak kebenaran karena bertentangan dengan keinginan dan egonya. Jika kita menemukan salah satu cirinya dalam diri kita, cepat-cepatlah bertobat. Sebab penolakan hikmat yang terus-menerus akan mendatangkan malapetaka dan kesusahan. Ketika itu terjadi, terlambat untuk memohon hikmat secara instan, "mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku." Karena itu, berhentilah sejenak, lihat sekeliling kita. Perhatikanlah bahwa hikmat ada dimana-mana. Ia berseru melalui firman, tanda-tanda alam, nasihat, pendapat, dan perilaku seseorang, peristiwa yang terjadi di sekitar kita, bahkan suara-suara orang tertindas. Belajarlah peka sekali pun di tengah rutinitas, nilailah segala sesuatu berdasarkan firman, dan latih diri untuk mentaati hikmat tersebut. [LS]