Kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan dari doa. Meski begitu, masih ada di antara kita yang salah dalam memahami bagaimana seharusnya berdoa, sehingga doa menjadi semacam rutinitas tanpa kuasa. Bacaan Alkitab hari ini menunjukkan bagaimana Yesus mengoreksi cara berdoa yang keliru pada zaman itu. Ada yang sengaja berdoa agar dilihat orang, ada juga yang bertele-tele seolah banyak kata membuat doa mereka lebih berkuasa. Permasalahan dalam kehidupan doa masa itu ternyata masih terjadi di masa kini.
Kita perlu kembali menyadari pentingnya menjalani kehidupan doa yang benar. Selain menghindari dua kekeliruan berdoa yang Yesus tegur di atas, kita juga harus memahami bahwa doa bukan sekadar rutinitas rohani, tetapi nafas kehidupan orang percaya. Coba renungkan, seberapa sering doa kita lebih banyak dipenuhi keinginan pribadi yang sifatnya duniawi, kita meminta begitu banyak hal sampai memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, seolah-olah doa adalah petisi yang harus dikabulkan. Yakobus menegur hal ini sebagai doa untuk memuaskan hawa nafsu kita sendiri. Padahal, doa sejatinya adalah ruang persekutuan yang intim dengan Tuhan, tempat kita mengalami pertumbuhan rohani. Memohon kepada Tuhan tentu tidak salah, tetapi doa jangan hanya berpusat pada permintaan pribadi tanpa membuka ruang bagi kehendak-Nya. Yesus sendiri telah mengajarkan cara berdoa yang benar melalui Doa Bapa Kami. Dari doa itu, kita belajar bahwa doa dimulai dengan pengagungan dan pujian kepada Allah. Kita tetap dapat menyampaikan permohonan, tetapi seiring pertumbuhan rohani, doa kita semestinya semakin dipenuhi dengan kerinduan untuk mengetahui kehendak Tuhan dan berpegang pada janji-janji-Nya. Sebab Tuhan bukanlah Pribadi yang tidak tahu kebutuhan anak-anak-Nya, Ia justru lebih mengetahui segala yang kita perlukan bahkan sebelum kita memintanya. Marilah kita memeriksa kembali motivasi doa kita. Apakah doa kita masih berpusat pada diri sendiri, atau sudah tertuju pada kehendak Allah? Mulailah membangun doa yang lahir dari penyembahan, ketaatan, dan kepercayaan kepada Bapa. Kiranya setiap doa yang kita panjatkan bukan hanya membawa permohonan, tetapi juga penyerahan diri kepada kehendak-Nya. [JW]