Semua orang menghadapi masalah dalam hidup ini. Namun tahukah Anda, satu hal yang membedakan orang bijak dari orang bodoh bukanlah jenis masalahnya, melainkan bagaimana mereka merespons masalah yang dihadapi. Kebanyakan dari kita terburu-buru bereaksi, kita tersinggung sebelum memahami, kita marah sebelum mendengar, dan kita menilai sebelum mencari tahu kebenarannya. Padahal, firman Tuhan telah memberi kita satu nasihat penting supaya kita cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat marah. Seperti inilah respons seorang bijak.
Orang bijak cepat untuk mendengar. Mereka mengakui dirinya tidak tahu segala-galanya sehingga mereka akan membuka telinga untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya. Orang bijak juga tidak terburu-buru dalam berkata-kata. Mereka menahan lidahnya dan lebih dulu mempertimbangkan, "apakah kata-kata ini benar", "apakah ini perlu diucapkan", dan "apakah perkataan saya membangun atau justru sia-sia". Bagi orang bijak, diam bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang dikendalikan oleh penguasaan diri. Orang bijak juga lambat untuk marah. Mereka bukan menolak emosi marah, melainkan tahu bagaimana menyalurkan dengan tepat karena mempertimbangkan kasih dan kebenaran. Yesus dipenuhi kebijaksanaan, ketika pribadinya yang dihina dan dicaci, Ia diam. Namun ketika kebenaran dinodai kemunafikan dan ketidakadilan, Ia berkata-kata dan menegur dengan tegas. Pada akhirnya, satu kebenaran yang harus kita pegang dalam memberi respons adalah: di dalam setiap peristiwa yang terjadi, jadilah orang yang senantiasa memperhatikan firman. Penulis Amsal mengatakan bahwa orang yang memperhatikan firman akan mendapat kebaikan. Kebijaksanaan sejati tidak lahir dari pengalaman semata, tetapi dari hidup yang selalu kembali pada firman Tuhan dan tunduk atasnya. Karena itu, marilah kita menjadi orang yang cepat mendengar, lambat berkata-kata, lambat marah, dan selalu mengukur respons kita berdasarkan firman Tuhan. [LS]