Ketika membaca firman Tuhan, kita akan menemukan ada peristiwa-peristiwa yang tak patut ditiru, yang memang diperuntukkan bagi kita sebagai pelajaran dan peringatan. Salah satunya adalah sikap pemberontakan dan ketidaksetiaan umat Israel. Sebagaimana di dalam bacaan firman hari ini, sikap-sikap pemberontakan tersebut dicatat secara terperinci. Sebagai umat pilihan Tuhan, mereka kerap mendapat pertolongan bahkan mujizat dari Tuhan (Mazmur 78:12-16). Namun hal-hal tersebut masih membuat mereka sering mempertanyakan kemahakuasaan Tuhan. Ironisnya lagi, mereka dengan berani meminta dan menantang Tuhan (Mazmur 78:19-20). Tetapi di saat benar-benar kesulitan, mereka pun berbalik lalu mencari Tuhan (Mazmur 78:34-35). Sayangnya setelah Tuhan menolong, mereka lupa begitu saja, bahkan meninggalkan Tuhan (Mazmur 78:42-58). Itulah sebabnya Tuhan berkata mereka adalah, "Angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah." (Mazmur 78:8). Perubahan mereka tidak disertai komitmen yang teguh di dalam hati. Pertobatan mereka kosong.
Menyampaikan penyesalan kita di hadapan Tuhan adalah sesuatu yang mudah. Mungkin saja ketika mendengar sebuah khotbah atau lagu rohani, saat membaca firman Tuhan atau buku rohani, kita merasa ditegur oleh Tuhan. Lalu hati kita tergerak untuk berubah. Sehari dua hari kita mungkin memang berubah. Tetapi di tengah jalan, kita berhenti dan kembali bersikap seperti di masa lampau. Inilah pertobatan yang kosong. Jika benar kita menyesal, hendaknya penyesalan itu membawa kita pada perubahan hidup. Dukacita yang tulus sejatinya menuntun kita untuk meninggalkan dosa-dosa. Jika melakukan perzinahan, kita akan menghentikannya. Jika pernah memfitnah, maka kita akan berusaha memulihkan nama baik orang yang telah kita sakiti. Jika pernah mencuri, kita akan mengembalikannya dan tak akan mencuri lagi (Efesus 4:28). Jika berbohong, kita tak akan berbohong lagi dan ke depannya akan menyatakan kebenaran. Jika sebelumnya pergaulan kita buruk, selanjutnya kita akan terlibat dalam komunitas rohani yang membangun. Kita harus memperbaiki kesalahan apa pun yang telah kita lakukan dan terus hidup di dalam kebenaran. Sebab, pertobatan sejati seharusnya membawa kita pada perubahan hidup yang terus menerus. [RS]