Dalam menjalani hidup kita sehari-hari, ada perbedaan antara tidak menyia-nyiakan waktu dengan tidak menyia-nyiakan hidup. Orang yang waktunya sangat produktif, belum tentu memenuhi tujuan hidupnya yang sesungguhnya. Orang yang waktunya sangat sibuk, bisa jadi mengorbankan apa yang paling penting di hidupnya. Contoh paling sederhana adalah banyaknya orang yang pada paruh pertama hidupnya menghabiskan kesehatan untuk mencari kekayaan, dan pada paruh terakhir hidupnya menghabiskan kekayaannya untuk mencari kesehatan.
Ada baiknya kita kembali mengevaluasi waktu-waktu yang kita lalui, di mana waktu tersebut bukan hanya dipenuhi kegiatan demi kegiatan, namun apa yang benar-benar penting menurut firman Tuhan sehubungan dengan siapa kita di dalam Kristus, dan bagaimana kita mengekspresikan identitas tersebut melalui apa yang kita lakukan. Tuhan Yesus sendiri adalah teladan bagi kita, dimana Ia sangat ketat dan produktif atas waktu demi memenuhi tujuan hidup-Nya. Setelah Yesus memulihkan seorang penderita kusta, Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras supaya ia tidak memberitahukan apa-apa perihal itu. Yesus tahu bahwa publisitas mujizat akan menghalangi misi-Nya dan mengalihkan perhatian publik dari pesan yang sesungguhnya ingin Ia sampaikan. Namun orang itu malah melanggar perintah Yesus. Akibatnya, Yesus harus memindahkan pelayanan-Nya dari kota ke tempat yang terpecil. Seperti Yesus, kita harus mengembangkan pemahaman yang jelas tentang misi kita sehingga kita tidak membuang-buang waktu –sekalipun kita tampak produktif dan sibuk, melainkan menginvestasikannya dengan mengingat panggilan Tuhan. Di samping itu, kita juga harus paham akan keterbatasan kita, supaya kita dapat terbebas dari belenggu pendapat, agenda, dan harapan orang lain. Belajarlah untuk mengatakan tidak pada ajakan dan permintaan yang mungkin menyanjung kita namun ternyata sangat sulit bagi kita sehingga menguras waktu, hati, pikiran, dan tenaga. Mari jadi orang percaya yang bijak, yang tidak lagi terjebak dengan kesibukan yang tidak sesuai dengan tujuan tertinggi kita yaitu mengenal Tuhan, memuliakan Tuhan, dan menikmati Tuhan selamanya. [LS]