Perasaan insecure sama dengan perasaan tidak aman, tidak nyaman, dan tidak percaya terhadap diri sendiri. Uniknya, orang yang insecure baik sadar maupun tidak, memperlihatkan perasaannya dengan dua cara yang kontras. Bagi sebagian orang, mereka akan memperlihatkan rasa tidak aman dengan misalnya menyalahkan diri sendiri, menghindari interaksi sosial, atau merasa cemas dan khawatir akan kemampuan dirinya sendiri. Namun sebagian orang lainnya akan menunjukkan rasa tidak aman dengan sikap membangkang, mencari pengakuan, mencari pembenaran, menjelek-jelekkan orang lain, tidak mau mengakui kesalahan, atau "gaslighting".
Apapun bentuk ekspresi dari rasa tidak aman, kita bisa simpulkan bahwa perasaan itu muncul karena sesuatu telah mengganggu atau mengancam identitas kita. Gideon insecure karena mengingat identitasnya sebagai kaum yang terkecil (Hakim-hakim 6:15), Yeremia insecure karena mengingat identitasnya yang masih muda dan tidak pandai bicara (Yeremia 1:6), Saul insecure karena identitasnya sebagai raja terancam (1 Samuel 18:7-10), Nebukadnezar membuat patung emas untuk mengamankan identitasnya sebagai penguasa paling sukses dan terlama di Babel (Daniel 1:1-6). Maka sekarang pertanyaannya, di mana Anda menemukan identitas Anda? Identitas adalah "siapa", "bagaimana", dan "apa" yang Anda percayai tentang diri Anda, dan juga yang Anda ingin orang lain percayai tentang Anda. Mengetahui identitas kita dengan tepat akan membebaskan kita dari sudut pandang dan harapan dunia yang keliru, dari kritik dan penolakan, dari masa lalu kita, dan dari hujatan yang orang lemparkan atas kegagalan yang pernah kita buat. Sering-seringlah mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang sudah Tuhan lakukan bagi kita telah mengubah jati diri kita. Sebagai ciptaan baru, pola pikir, tindakan, dan cara pandang kita telah dipersatukan dengan Kristus (Galatia 3:27). Kita telah menerima banyak manfaat dari hidup yang diperbaharui dan diperdamaikan dengan-Nya, yaitu diterima, dibenarkan, diampuni, diselamatkan, didiami Roh Kudus, disempurnakan, menjadi warga Kerajaan Sorga, dan kita selalu aman dalam kasih Tuhan. Dengan senantiasa mengingat identitas kita di dalam Kristus, kita bebas dari perasaan insecure. Kita tak lagi mengejar persetujuan manusia demi sebuah pengakuan, kita tak lagi merasa terancam saat menghadapi kritik atau penolakan, kita tak lagi lari pada kebiasaan buruk atau kecanduan untuk mencari kelegaan, dan kita selalu bisa menarik sisi positif dari segala kejadian negatif. [LS]