Di dalam buku Pilgrimâs Progress, penulis dan pengkhotbah Puritan John Bunyan menuliskan salah satu karakter bernama Little Faith. Saat Little Faith melakukan perjalanan ziarah ke Kota Surgawi, ia tertidur di tempat bernama Jalur Orang Mati. Disana, tiga perampok bernama Faintheart, Mistrust, dan Guilt merampoknya. Ternyata, meski para perampok itu berhasil merampok uang Little Faith, mereka tidak berhasil merampok miliknya yang paling berharga, yaitu sertifikat untuk memasuki Gerbang Surga. Meski begitu, Little Faith meneruskan sisa perjalanannya dengan muram dan gamang, sambil terus mengingat perampokan itu.
Demikianlah gambaran orang dengan iman yang kecil. Mereka menyimpan kegamangan, memelihara kekhawatiran dan ketakutan mereka, sehingga mereka tidak pernah mencapai sesuatu yang maksimal dalam hidup mereka. Di dalam kitab Matius, kita melihat Yesus berulang kali menegur para murid yang seringkali kurang percaya. Mereka digambarkan seperti orang-orang yang khawatir soal kebutuhan hidup (Matius 6:30), yang sering merasa ketakutan, ragu, dan bimbang atas suatu keadaan (Matius 8:26; 14:31), yang menjadi gusar hanya karena soal makanan (Matius 16:8), dan yang terkadang gagal melakukan pekerjaan-pekerjaan besar bagi Allah (Matius 17:20). Di dalam bacaan Alkitab hari ini, setelah Yesus menegur murid-murid yang kurang percaya, Ia mengatakan perumpamaan, "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawiâ¦". Kata "sebesar" di sini berasal dari kata Yunani "hos" yang artinya "seperti" atau "in that manner" (dengan cara itu), jadi kita pun perlu mempertimbangkan ayat lain yang memberi tahu kita bahwa memang biji sesawi itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan bisa menjadi pohon setinggi 4,5 meter, sehingga burung pun dapat membuat sarangnya. Dengan demikian kita paham bahwa Yesus mendorong pertumbuhan iman kita. Iman yang bertumbuh seperti biji sesawi dapat melakukan dan mengalami perkara-perkara ajaib. Di saat-saat tertentu, kita pun perlu mengakui terkadang iman kita kecil, kita percaya tidak percaya pada hal-hal yang bisa Tuhan lakukan dalam kehidupan kita. Beberapa di antara kita masih ada yang mengenang saat-saat dimana mujizat terjadi belasan atau puluhan tahun lalu, tapi iman kita tak lagi bertumbuh dari hari itu hingga hari ini. Jangan menyerah, mari kita tumbuhkan iman kita seperti biji sesawi, di mana biji itu harus tertanam di tanah yang subur, dengan air dan sinar matahari yang cukup. Tanah yang subur itu ibarat persekutuan orang-orang kudus, dimana Tuhan hadir di dalamnya. Air dan sinar matahari ibarat makanan utama orang beriman, yaitu firman Tuhan. Melalui firman-Nya, kita mengenal karakter Allah, kita berjumpa dengan-Nya, kita memperoleh kesabaran, ketekunan, kekuatan untuk taat, dan berjuang untuk tetap dalam arahan Tuhan. [LS]