Rasul Paulus mengatakan bahwa kehebatan kuasa Tuhan tersedia bagi kita yang percaya. Namun kita seringkali tergelitik dengan kenyataan yang terjadi di sekitar kita, di mana tak jarang kita menemukan atau berurusan dengan orang-orang Kristen yang menyerah dengan keadaan, memiliki sikap hidup negatif, atau yang masih diperbudak perbuatan amoral. Seperti ada jurang antara pernyataan Paulus tentang kuasa Allah bagi kita yang percaya dengan apa yang kita lihat di sekeliling kita. Itu sebabnya, kita harus mencari tahu bagaimana sebenarnya penerapan kata-kata Paulus, dan bagaimana kita mengalami realitas kuasa Tuhan dalam kehidupan pribadi kita.
Pada ayat sebelumnya, Paulus berdoa supaya mata hati kita diterangi, yang salah satunya agar kita memahami besarnya kuasa Tuhan terhadap kita yang percaya. Jadi kemahakuasaan Tuhan diketahui saat Tuhan membuka mata hati kita, dan inilah yang harus terus menerus kita harapkan dan doakan di sepanjang hidup kita supaya kita diberi pengertian oleh-Nya (Filipi 3:10-12). Saat Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai El Shaddai kepada Abraham, baik Abraham maupun Sarah dalam kondisi jauh melampaui usia untuk memiliki anak. Melihat situasi Abraham yang demikian, kita diingatkan untuk tidak apatis terhadap kuasa Tuhan. Kita harus percaya, tak peduli betapa suramnya situasi yang kita hadapi. Beberapa orang mungkin tetap berkecil hati, depresi, dan terikat pada dosa karena mereka tidak percaya, dan akhirnya tidak mengalami kuasa Tuhan. Ingat, Dia El Shaddai, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Juga ketika Tuhan menampakkan diri-Nya sebagai El Shaddai, Ia meminta Abraham untuk hidup tidak bercela. Maka untuk mengalami kuasa Tuhan, hiduplah dengan tidak bercela di hadapan-Nya. Kita dapat hidup benar melalui kasih karunia yang diberikan Tuhan. Ia memberikan kita Roh Kudus, Ia memberi kita firman-Nya, kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh. Lihat diri kita, adakah area spesifik di mana Tuhan memanggil kita untuk hidup tidak bercela? Ingatlah bahwa untuk mengalami kuasa Tuhan, ada kaitan erat antara hidup yang beriman, di mana kita mempercayai kuat kuasa-Nya, dengan menjaga hidup yang tidak bercela. Firman-Nya sudah mengingatkan bahwa tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Barangsiapa berpaling pada Allah, ia harus percaya Allah ada, dan Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya. [LS]