Peristiwa penangkapan Yesus tak bisa dipisahkan dengan kisah penyangkalan Petrus. Betapa tidak, kedekatan Yesus dengan Petrus tidak diragukan lagi. Ia kerap bersama-sama dengan Yesus dalam momen-momen penting. Malam sesaat sebelum penangkapan Yesus, Ia berkata akan ada murid yang menyerahkan-Nya. Dengan lantang Petrus pun menjawab, "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Namun fakta berkata lain, saat Yesus akan menghadapi kematian, Petrus menyangkal-Nya. Jika diperhatikan, penyangkalan Petrus semakin parah. Jika awalnya Petrus menyangkal, berikutnya ia menyangkal dan bersumpah, dan terakhir ia mengutuk dan bersumpah (Matius 26:70, 72, 74). Sungguh ironis, murid terdekat yang telah melalui banyak hal bersama Yesus tidak mengakui bahwa ia adalah murid-Nya.
Bukti kasih kita akan teruji saat diterpa masalah. Mudah untuk berkata kita mengasihi Tuhan saat keadaan baik. Layaknya Petrus, mungkin kita akan berucap bahkan dengan tangan yang terangkat, "Aku mengasihi-Mu Tuhan dan mau mengiringmu seumur hidupku." Namun apakah saat mengalami penderitaan kita masih mengakui Tuhan dalam hidup kita? Bersyukur akhirnya Petrus menyesal dan berubah. Maka tak mengherankan berita kebangkitan Yesus disampaikan secara khusus kepada Petrus. Sebelum kenaikan-Nya, Yesus juga bertanya secara pribadi, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Sampai tiga kali Yesus bertanya. Kali terakhir dengan mantap Petrus berkata, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Jawaban itu menyuarakan isi hati Petrus bagaimana Tuhan yang mengenalnya sampai ke kedalaman hatinya dengan segala keberadaannya. Kita tahu akhir hidup Petrus. Bukan saja tidak melarikan diri saat diterpa masalah, kali ini ia dengan berani menanggung kematian karena kasihnya kepada Kristus. Pertanyaan yang sama Yesus ajukan pada kita, "Apakah engkau mengasihi Aku?" [RS]