Peristiwa kematian anak perempuan Sunem memberikan pelajaran yang berharga bagi kita. Awalnya perempuan Sunem ini mandul. Melalui Nabi Elisa, Tuhan memberikan mujizat kepada perempuan Sunem sehingga ia memperoleh seorang anak. Namun, setelah besar anak itu meninggal. Mendapati anaknya meninggal di pangkuannya, perempuan ini pun segera pergi menghadap Elisa. Ketika melihat perempuan itu datang, Elisa yang tidak mengetahui keadaannya, mengutus hambanya Gehazi untuk menyongsongnya dan bertanya, "Selamatkah engkau, selamatkah suamimu, selamatkah anak itu?" Perhatikan, jawaban dari perempuan Sunem ini cukup di luar dugaan. Perempuan Sunem ini menjawab, "Selamat!" Padahal, kebenarannya anaknya telah meninggal. Sesudah ia sampai ke Elisa, ia pun memegang kaki Elisa, tetapi Gehazi mendekat hendak mengusir dia. Lalu berkatalah Elisa, "Biarkanlah dia, hatinya pedih! TUHAN menyembunyikan hal ini dari padaku, tidak memberitahukannya kepadaku." Pada akhirnya, Tuhan kembali menyatakan mujizat-Nya kepada perempuan ini dengan membangkitkan anaknya dari kematian.
Saat rasa sakit menghampiri, memang tak mudah untuk tetap berpikir optimis dan berpengharapan. Tetapi perempuan Sunem ini mengajarkan kepada kita iman di tengah kepedihan hatinya. Sering kali di tengah rasa sakit yang kita alami, Iblis berusaha menghancurkan iman kita, tetapi Tuhan hendak memperkuat iman kita, dan memperdalam kasih kita kepada-Nya. Mari kita melihat peluang Tuhan untuk bekerja di tengah-tengah kepedihan hati yang kita alami. Milikilah iman, "Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman." (Ibrani 10:38). Betapa menyedihkan jika kita gagal melihat maksud Tuhan di tengah-tengah rasa sakit yang kita alami. Kita hanya menyia-nyiakan rasa sakit tersebut jika membiarkannya membuat kita terpuruk dan bukannya mengalami tangan Tuhan yang bekerja secara nyata. [RS]